TITIPAN
TANGAN HEBAT
*ING's*
Aku menghabisi kota ini
dengan pandanganku hingga titik terjauh yang kecil dapat ditangkap oleh
inderaku, namun setelah itu aku tak dapat lagi melihat ujung dari kota ini.
Pandanganku berhenti, terikat kuat oleh sesuatu yang ku lihat dari jarak
beberapa meter di depanku.Aku tak dapat melihatnya dengan jelas, rasa
penasaranku ini menggerakkan kakiku secara perlahan mendekatinya.
Sekarang ini, aku berada di
hadapan tempat itu. Aneh ! dengan jarak sedekat ini pun aku tak tahu apa
ini.tak pernah ku lihat hal seperti ini sebelumnya. Tanpa memerdulikan rasa
penasaran ku ini, aku lalu melangkah dan terus melangkah tanpa suatu tujuan
apapun, bagaimana mungkin ada tujuan, mengenali kota ini pun aku tak tahu. Aku
hanya terus berjalan menyusuri jejak-jejak pandanganku yang sedari tadi tak
pernah lepas dari bagian-bagian kecil kota ini. aku semakin terbawa arus kota
ini ketika aku berjalan beberepa meter dari tempat aneh itu, sesuatu tempat yang tidak begitu
luas ku jumpai lagi. Tempat ini seperti
bekas ladang yang tak terawat dan gersang, seperti tak ada pemiliknya yang
merawat lagi.Terlihat olehku sisa-sisa batang tanaman umbi-umbian serta
dedaunan kering yang memenuhi ladang ini.setiap aku singgah di suatu tempat
yang membuat batinku terikat, aku selalu penasaran dengan hal-hal itu. Namun,
setiap hal itu membuatku penasaran dan tak bisa mengerti. Batinku “kota ini
aneh, tak ada kehidupan yang lebih baik, semua membuatku penasaran tapi tak
dapat ku pecahkan dengan pikiranku, siapakah yang tau kota ini, melihatnya pun
baru, berada disini pun juga pertama kalinya untukku. Apakah telah ada yang
mengerti dengan kota ini ? bagaikan kapal pecah di setiap sudutnya tak terawat,
dan tak bertuan. Namun, satu hal yang melintas di pikiran ku tentang kota ini,
aku prihatin dengan keadaan sekeliling yang tak jelas ini, begitupun dengan
diriku.
Aku terus berjalan mengitari
jejak kehidupan di kota ini. kehidupan yang tergambar dibenakku sangat berbeda
dengan kehidupanku yang sebenarnya. Terus mengitari kota ini, pikiranku pun
terus bergulat dengan hal-hal yang bertanda tanya dengan apa sebenarnya sulit
di pahami dan sulit di mengerti untuk pemula sepertiku ini tapi, aku tak pernah
berhenti berjalan menyusuri jejak-jejak kota ini sampai pada aku benar-benar
lelah untuk berpikir. Beberapa hal yang
tak ku mengerti dan beberapa hal pula yang dapat ku maknai, begitulah perkataanku
pada diriku sendiri. Aku seorang pemula untuk mengerti dan memaknai jejak ini.
beberapa lama mengitari kota ini sendirian, tiba-tiba seseorang menepuk kecil
pundakku dari belakang. Aku terkejut dan langsung sadar dari dunia khayalan ku
tentang sebuah lukisan ini.
“ada apa sih, serius banget
deh “ tanya kak Han
Dia adalah kakak sepupuku yang tujuh tahun ini telah menjadi
seorang pelukis. Setiap lukisannya selalu ternilai indah di mataku dan selalu
menyentuh setiap kali aku bertanya tentang makna lukisannya.
“iya kak, aku berusaha
untuk memaknai lukisan ini” kataku yang terus memperhatikan lukisan.
“ kamu sudah dua jam loh di
depan lukisan ini, sampai lukisan ini bosan liatin kamu juga. Heheh” ucapnya
bercanda
“ihh, kakak apaan sih”
ucapku
“jadi kamu sudah mengerti
dengan lukisan ini ?” tanyanya
“ belum ‘jawabku singkat
Aku sangat simpatik dengan
goresan-goresan tangan kak han yang selalu dapat menarik perhatianku ketika
berkunjung dengan ayah ke galerinya. Aku juga pernah bermimpi untuk memiliki
tangan sehebat tangan kak han yang membuat goresan penuh dengan makna dan
hampir sama dengan kenyataannya. Semua itu pernah menyita waktu ku ketika aku
benar-benar belajar membuat karya sedemikian. Namun tak bisa di pungkiri, tangan ku bukanlah tangan kak han, Aku tak
bisa melukis sehebat kak han
Tuhan
memang menitipkan tangan yang berbeda. Tapi tuhan masih memberikan ku jiwa seni
dengan terampil dalam memaknai lukisan kak han.
Lukisan yang ada di depan
ku saat ini sangat membuatku penasaran. Aku tak dapat memaknai lukisan ini.
“jadi,
lukisan ini menggambarkan tentang kehidupan dahulu saat bumi pertiwi ini di
perjuangkan”
“gey,
tempat ini adalah suatu tempat pertumpahan darah para pejuang kita” lanjut kak
han
Ternyata itu adalah suatu hal yang mengikat rasa penasaran
ku tadi
“lalu, ada
apa dengan ladang ini” tunjukku ke lukisan itu.
“oh, gey,
ladang tak terawat ini menjadi suatu simbol lelahnya rakyat pertiwi dahulu
dalam menanam yang kemudian hasilnya harus diserahkan kepada manusia-manusia
tak berbudi.
Sekarang aku mengerti. Terjawab sudah rasa penasaranku terhadap lukisan ini.
ternyata makna lukisan ini sangat mudah tetapi, goresan tangan kak han membuat
maknanya sangat jauh tersembunyi. Kak han memang hebat, tuhan benar-benar
menitipkan jari terampil yang dapat memuaskan batinku setiap melihat goresan
lukisan yang hebat. Akulah gey si penikmat lukisan yang tak terampil melukis
dan dialah han si pemilik tangan hebat pencipta lukisan.
UDARA MALAM yang hangat terasa lembab
dan menggantung di atas kota seperti selembar lap basah. Malam sudah sangat
larut. Sudah lewat tengah malam, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah
suara jangkrik diselingi suara burung hantu. Namun dua balita itu masih terjaga.
Keduanya masih kokoh memainkan jejemari mereka. Hanya dua puluh jari-jari itu,
dan keduanya tertawa terbahak-bahak. Sesekali mereka memegang perut yang
terguncang karena virus tawa yang menyelimuti tubuh mereka. Entah, ada apa
dengan jari-jari itu?
DESIRAN HATI sang malaikat tak bersayap bak sebuah melodi
dalam kehidupan yang memberikan beribu warna keajaiban pada kehidupan seseorang
yang tak termimpikan sebelumnya. Seseorang yang senantiasa menjalankan seluruh
kehidupannya dengan nafas kasih sayang, seseorang yang senantiasa berjuang
mewujudkan keinginannya dengan tingkah luar biasa, seseorang yang senantiasa
selalu bertanya pada dirinya sendiri dengan mulut yang manis. “akankah
kehidupan ini berakhir dengan bahagia?” , “akankah semua ilmu yang dicari
berguna nantinya?”, “akankah kalian mengerti tentang kasih sayang yang ku
pertunjukkan?”, “akankah kau mengerti tentangku?”. Semua itu adalah tantangan
dalam hidupnya yang harus diselesaikan sebelum ia melanjutkan ke tantangan
selanjutnya.
SAAT ITU AKU, Dinda siswi XI MIA 2, SMA Negri 1
Watansoppeng. Sedang duduk disebuah bangku dalam ruang putih yang kosong, anehnya
aku seakan melihat diriku sendiri. waktu itu aku merasa pikiranku sedang
kosong, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara bel masuk sekolah dan serentak
ruang putih yang tadinya hanya ada diriku di dalamnya tiba-tiba langsung terisi
penuh dan berubah menjadi ruang kelas ku sendiri. Saat itu aku berpikir “Apakah
tadi hanya halusinasi?,” ucapku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalaku.
Saat masih bingung-bingungnya aku dipanggil oleh veby yang duduk di belakangku,
akupun langsung berbalik.
MASIH TERLIHAT jelas sisa air
mata di pipi April. Yah benar, April baru saja habis menangis seperti biasanya.
Hari-harinya hampir dipenuhi dengan perasaan resah, dan entah apa yang ada
dibenaknya yang membebani hatinya. Padahal, hampir seluruh keinginannya telah
terpenuhi, dari uang jajan sampai seluruh kebutuhannya selalu tercukupi, kasih
sayang semua anggota keluarga pun tercurah padanya. Mungkin karena April anak
bungsu jadi wajarlah jika sifat manja kini menjadi karakternya sampai saat
ini..
“AWAL DARI RASA
cinta akan tetap cinta jika pintar mengolah rasa cinta itu agar tetap cinta….”
*mun*
SUATU
HARI , seorang lelaki muda dengan pakaian yang terbilang rapi
dan gaul sedang berjalan-jalan
mengelilingi indahnya kota London .Ia berjalan dengan headseat ditelinganya
layaknya kebanyakan pemuda jaman sekarang. Sesekali ia berbalik memerhatikan
gedung-gedung besar di depannya yang berjejer rapi dengan warna yang cukup
menarik hati.
DI
DAERAH KOTA soppeng terdapat sekolah menengah atas yakni SMA Negri 1
Watansoppeng yang merupakan SMA favorit sekaligus unggulan di kota itu,
disekolah itu ada seorang anak bernama Widy, kelas XI MIA, orangnya cantik,
pintar, manis, dia merupakan kategori perempuan idaman di sekolah itu, tapi
karna sifatnya yang terlalu cuek pada laki-laki dan seperti tidak tertarik
dengan hubungan-hubungan yang tidak jelas seperti pacaran sampai sekarang ia
tidak pernah berpacaran. Karna sifatnya itu pula banyak laki-laki enggan mendekatinya.
PASUKAN GEMBALA KEMBAR
*a.nu'*
***
Hamparan tanah
lapang terpampang jauh ke depan batas pandangan yang bak takkan berakhir. Suara
naungan puluhan sapi menyelinap masuk ke gendang telinga, berbunyi u panjang.
Bagai bersorak bagi dua pemimpin mereka yang berdiri kokoh membacakan sebuah
pidato.
“Bagi
saudara-saudaraku. Kita akan memulai penjelajahan kita.”,teriakan semangat
laki-laki gendut, membuat tanah lapang itu berisik, berseru, mengobarkan
semangat merah putih mereka. Laki-laki itu menutup pidato singkatnya dengan
senyum simpul yang membuat sapi betina mengedipkan mata.
“Penjelejahan itu
apa?”,tanya sang adik, sembari memonyongkan bibir, tampak polos.
“Jalan-jalan dan bermain-main.”bisik kakak, agar pasukannya tidak mendengar kebodohan sang adik.
“Jalan-jalan dan bermain-main.”bisik kakak, agar pasukannya tidak mendengar kebodohan sang adik.
“Selu dong.”,ucap
sang adik unjuk gigi, memperlihatkan giginya yang berkarat.
“Tentu. Tapi
bukan hanya sekedar seru, kita akan membuat keajaiban di dunia ini.”,jelas sang kakak,
dengan semangat yang masih berkobar. Berharap pasukan sapinya bersiap
menurunkan sikap semangat pantang menyerah miliknya.
“Aku akan jadi
pengawal setia Kak.Gege.”,gumam sang adik mengangkat tinju mungilnya.
Sepertinya semangat sang jenderal bernama Gege itu, telah menurun kepada sang
adik. Juga ke- pasukan-pasukannya.
“Baik. Tapi Dede’
harus bisa jaga diri.”,nasehat Gege.
“Ote.”,gumam adik
mengangkat telunjuk sebagai tanda mereka mulai berjalan.
Perjalanan yang
tak kenal lelah itu, membawa mereka ke gerbang sebuah rumah mewah. Dilihatnya
seekor kuncing dan tikus yang berkeliaran, saling berkejar-kejaran, hingga saling
memukuli dengan wajan. Tentu kucing yang mengejar tikus. Sementara tikus yang
terdesak mulai melempar berbagai benda untuk menghalangi langkah si kucing.
“Tunggu !”teriak Gege, menghentikan permainan kejar-kejaran si
Kucing dan Tikus.
“Belhenti !”,ikut Dede’ menghentikan kucing dan tikus itu.
“Kalian memanggilku?”,tanya kucing dengan wajan di tangannya.
“Siapa lagi?”,balas Gege’.
“Ada apa?”,si Tikus pun ikut berucap.
“Siapa nama kalian?”,tanya Dede’, penasaran.
“Tom.”,ucap kucing
“Jerry.”,jawab Tikus.
“Mengapa kalian berlarian?”,tanya Gege’.
“Dia mencuri makananku.”,jawab Tom.
“Dia tak membiarkanku memakan keju, meski sedikitpun.”,rengek si Jerry.
“Belbagi itu baik.”,gumam Dede’.
“Meski kalian berbeda dan tidak mungkin bersatu, cobalah untuk hidup berdampingan.”,nasehat Gege’ sembari mengambil keju itu, dan membaginya menjadi dua. Kucing dan tikus itu hanya bingung dan saling bertatapan. Kemudian tersenyum, dengan bermaksud setuju.
“Kalian tahu tempat ini?”,tanya Dede’ memperlihatkan sebuah peta indah yang terukir di atas selembar kertas. Keduanya saling menggelengkan kepala, dan artinya pasukan Gege dan Dede’ itu harus melanjtukan perjalanan mereka lagi.
“Belhenti !”,ikut Dede’ menghentikan kucing dan tikus itu.
“Kalian memanggilku?”,tanya kucing dengan wajan di tangannya.
“Siapa lagi?”,balas Gege’.
“Ada apa?”,si Tikus pun ikut berucap.
“Siapa nama kalian?”,tanya Dede’, penasaran.
“Tom.”,ucap kucing
“Jerry.”,jawab Tikus.
“Mengapa kalian berlarian?”,tanya Gege’.
“Dia mencuri makananku.”,jawab Tom.
“Dia tak membiarkanku memakan keju, meski sedikitpun.”,rengek si Jerry.
“Belbagi itu baik.”,gumam Dede’.
“Meski kalian berbeda dan tidak mungkin bersatu, cobalah untuk hidup berdampingan.”,nasehat Gege’ sembari mengambil keju itu, dan membaginya menjadi dua. Kucing dan tikus itu hanya bingung dan saling bertatapan. Kemudian tersenyum, dengan bermaksud setuju.
“Kalian tahu tempat ini?”,tanya Dede’ memperlihatkan sebuah peta indah yang terukir di atas selembar kertas. Keduanya saling menggelengkan kepala, dan artinya pasukan Gege dan Dede’ itu harus melanjtukan perjalanan mereka lagi.
Perjalanan mereka
berlanjut. Peluh menetes, tapi tubuh mereka masih terbakar semangat. Kadang
mereka bersenandung merdu, sembari mencari tempat yang tertera di atas selembar
kertas yang digenggam kuat oleh jejemari mungilnya. Hingga masuk ke dalam laut.
Daratan mungkin telah dijelajah oleh tapak kaki mereka. Tinggal lautan. Dalam
dinginnya air, sejalan dengan aliran arus, tertimbun sebuah kehidupan.
Disanakah tempatnya? Batin bergumam pelan. Menyelam menuju tiga rumah lucu yang
berjejer. Rumah nanas, rumah wajah, dan rumah batu. Sang pemilik sedang
bercengkrama di depan rumah, tepatnya di jalan setapak menuju tempat bernama KrustiKrab.
“Kau jangan
mengganguku, bodoh!”,teriak sang Gurita.
“Ayo menangkap ubur !”,ajak si Spons kuning itu, sembari tersenyum memperlihatkan dua gigi depannya yang besar.
“Ayo menangkap ubur !”,ajak si Spons kuning itu, sembari tersenyum memperlihatkan dua gigi depannya yang besar.
“Aku ingin
menghabiskan hari mingguku tanpa kalian berdua. Paham?”,amarah si Gurita itu
membara. Meski dua teman di depannya masih kokoh dengan senyum masamnya yang
terabaikan.
“Padang
ubur-ubur. Padang ubur-ubur.”,girang si Bintang laut merah muda, sembari
berlarian mengelilingi sang Gurita, yang bagai akan meledak sekarang juga.
“Permisi.”,sapa Gege.
“Kalian sedang apa?”,tanya Dede’.
“Orang bodoh itu menggangguku.”,kesal Gurita.
“Berburu ubur-ubur.”,ucap si spons kuning, dengan jaring ubur-ubur yang tampak berkilauan dalam genggaman tangan kuningnya.
“Permisi.”,sapa Gege.
“Kalian sedang apa?”,tanya Dede’.
“Orang bodoh itu menggangguku.”,kesal Gurita.
“Berburu ubur-ubur.”,ucap si spons kuning, dengan jaring ubur-ubur yang tampak berkilauan dalam genggaman tangan kuningnya.
“Nama kalian
siapa?”,tanya Gege.
“SpongeBob.”,jawab si spons kuning.
“Squidward.”,tutur si gurita dengan wajah yang masih kusut.
“Namaku siapa?”,gumam sang bintang laut merah muda, sembari menggaruk-garuk kepala runcingnya.
“Patrick! Namamu, Patrick.”,bisik SpongeBob.
“Oh, ya. Patrick. Namaku Patrick.”,ucap Patrick, dengan polosnya. “Patrick itu siapa? Siapa Patrick?”,lanjutnya. Tingkah bodoh Patrick, semakin membuat Squidward mendidih. Gege hanya tertawa, dan Dede’ mengikuti kebodohannya.
“SpongeBob.”,jawab si spons kuning.
“Squidward.”,tutur si gurita dengan wajah yang masih kusut.
“Namaku siapa?”,gumam sang bintang laut merah muda, sembari menggaruk-garuk kepala runcingnya.
“Patrick! Namamu, Patrick.”,bisik SpongeBob.
“Oh, ya. Patrick. Namaku Patrick.”,ucap Patrick, dengan polosnya. “Patrick itu siapa? Siapa Patrick?”,lanjutnya. Tingkah bodoh Patrick, semakin membuat Squidward mendidih. Gege hanya tertawa, dan Dede’ mengikuti kebodohannya.
“Untuk apa kalian
kesini?”,tanya Squidward.
“Berburu ubur-ubur?”,lanjut SpongeBob.
“Diam, kau bodoh!”,teriak Squidward.
“Kami mencari tempat ini.”,jawab Gege memperlihatkan peta penjelajahan mereka. Dede’ tak berkomentar. Dia sibuk berburu ubur-ubur dengan si Bintang laut merah muda itu. Tawa mereka lepas di dalam laut yang dalam itu, sementara Squidward masih kesal karena minggunya berakhir tanpa istirahat baginya.
“Berburu ubur-ubur?”,lanjut SpongeBob.
“Diam, kau bodoh!”,teriak Squidward.
“Kami mencari tempat ini.”,jawab Gege memperlihatkan peta penjelajahan mereka. Dede’ tak berkomentar. Dia sibuk berburu ubur-ubur dengan si Bintang laut merah muda itu. Tawa mereka lepas di dalam laut yang dalam itu, sementara Squidward masih kesal karena minggunya berakhir tanpa istirahat baginya.
“Kami tidak
tahu.”,jawab Squidward.
“Mau berburu ubur-ubur?”tanya SpongeBob,ramah.
“Tidak. Kami harus mencari tempat ini.”,tutur Gege’. “Terima kasih, dan lain kali, cobalah akur. Orang pintar takkan ada, tanpa orang bodoh, Squidward.”,lanjut Gege, sembari menarik tangan adiknya, Dede’ yang sibuk bermain dengan ubur-ubur dan juga Patrick.
“Cobalah ke Konohagakure. Mungkin tempat itu ada disana.”,teriak SpongeBob, setelah melihat langkah putus asa pasukan gembala kembar itu. “Telima kasih.”,teriak Dede’.
“Tempat apa itu?”,tanya Squidward penasaran dengan nama Konohagakure itu.
“Aku mengatakan sesuatu? Mungkinkah ladang ubur-ubur?”,balas SpongeBob. “Ayo berburu ubur-ubur.”,ajak SpongeBob lagi, dan Squidward menyesal menanyakan kata itu.
Langkah kaki pasukan gembala kembar berlanjut. Tapak kakinya meninggalkan bekas di atas hamparan pasir luas, kota Konohagakure. Tempat terakhir dari penjelajahannya mencari tempat yang terukir dalam peta itu.
“Mau berburu ubur-ubur?”tanya SpongeBob,ramah.
“Tidak. Kami harus mencari tempat ini.”,tutur Gege’. “Terima kasih, dan lain kali, cobalah akur. Orang pintar takkan ada, tanpa orang bodoh, Squidward.”,lanjut Gege, sembari menarik tangan adiknya, Dede’ yang sibuk bermain dengan ubur-ubur dan juga Patrick.
“Cobalah ke Konohagakure. Mungkin tempat itu ada disana.”,teriak SpongeBob, setelah melihat langkah putus asa pasukan gembala kembar itu. “Telima kasih.”,teriak Dede’.
“Tempat apa itu?”,tanya Squidward penasaran dengan nama Konohagakure itu.
“Aku mengatakan sesuatu? Mungkinkah ladang ubur-ubur?”,balas SpongeBob. “Ayo berburu ubur-ubur.”,ajak SpongeBob lagi, dan Squidward menyesal menanyakan kata itu.
Langkah kaki pasukan gembala kembar berlanjut. Tapak kakinya meninggalkan bekas di atas hamparan pasir luas, kota Konohagakure. Tempat terakhir dari penjelajahannya mencari tempat yang terukir dalam peta itu.
“Rasengang.”,teriak
anak laki-laki berambut kuning itu sembari memukul perut lawannya.
“Katon: Gokakyu no jutsu.”,balas anak laki-laki tampan berambut hitam itu, sembari menghindar, lalu melempar sebuah suriken.
“Katon: Gokakyu no jutsu.”,balas anak laki-laki tampan berambut hitam itu, sembari menghindar, lalu melempar sebuah suriken.
“Hentikan!”teriak
Dede’ menghentikan perkelahian mereka.
“Siapa kalian?”,tanya laki-laki berambut kuning.
“Aku Dede’, adiknya kak Gege.”,ucap Dede’ polos.
“Mengapa kalian berkelahi?”,tanya Gege’.
“Aku ingin menghentikannya untuk pergi.”,jawab laki-laki berambut kuning, sembari sesekali air matanya jatuh.
“Dan aku ingin dia mati, lalu aku mendapatkan mata itu.”,lanjut laki-laki berambut hitam itu, dengan dinginnya. Tak sekalipun dia menolehkan pandangan pada laki-laki berambut kuning yang menatapnya dengan mata sayu.
“Sasuke, hentikan ucapanmu.”,sela laki-laki berambut kuning itu, sembari mengepal tinjunya, yang juga ia gunakan menghapus air matanya.
“Jangan bodoh, Naruto. Kau juga sangat membenciku, bukan?”,ungkap laki-laki yang dipanggil Sasuke itu. “Bunuh aku sekarang juga!”,lanjutnya.
“Ada apa dengan kalian ini?”,sela Gege. “Kalian ini teman. Mengapa harus seperti ini?”,lanjutnya, prihatin.
“Bukan begini calanya mengungkapkan kasih sayang.”,potong Dede’. “Kak. Gege selalu melindungiku. Itulah kasih sayang.”,lanjut Dede’. Kalimat yang terlontar dari mulut polos milik Dede’ ini, menyerang batin Naruto ataupun Sasuke. Dengan langkah pelan, Sasuke mendekati Naruto, kemudian memeluknya. Cinta antara keduanya meluap, yang sedari tertimbun dibalik perkelahian mereka. Hadirnya Gege dan Dede’, memiliki makna bagi dua teman itu.
“Hentikan sinetron kalian!”,canda Gege’.
“Kalian tahu tempat ini?”,lanjut Dede’.
“Lembah kasih sayang?”,ucap Naruto, yang membaca tulisan dari kertas dalam genggaman Dede’. Lembah kasih sayang. Tempat yang dicari oleh pasukan gembala kembar itu. Namun, yang tertera di atas selembar kertas itu bukanlah peta. Tetapi, hurup yang berurutkan LEMBAH KASIH SAYANG.
“Siapa kalian?”,tanya laki-laki berambut kuning.
“Aku Dede’, adiknya kak Gege.”,ucap Dede’ polos.
“Mengapa kalian berkelahi?”,tanya Gege’.
“Aku ingin menghentikannya untuk pergi.”,jawab laki-laki berambut kuning, sembari sesekali air matanya jatuh.
“Dan aku ingin dia mati, lalu aku mendapatkan mata itu.”,lanjut laki-laki berambut hitam itu, dengan dinginnya. Tak sekalipun dia menolehkan pandangan pada laki-laki berambut kuning yang menatapnya dengan mata sayu.
“Sasuke, hentikan ucapanmu.”,sela laki-laki berambut kuning itu, sembari mengepal tinjunya, yang juga ia gunakan menghapus air matanya.
“Jangan bodoh, Naruto. Kau juga sangat membenciku, bukan?”,ungkap laki-laki yang dipanggil Sasuke itu. “Bunuh aku sekarang juga!”,lanjutnya.
“Ada apa dengan kalian ini?”,sela Gege. “Kalian ini teman. Mengapa harus seperti ini?”,lanjutnya, prihatin.
“Bukan begini calanya mengungkapkan kasih sayang.”,potong Dede’. “Kak. Gege selalu melindungiku. Itulah kasih sayang.”,lanjut Dede’. Kalimat yang terlontar dari mulut polos milik Dede’ ini, menyerang batin Naruto ataupun Sasuke. Dengan langkah pelan, Sasuke mendekati Naruto, kemudian memeluknya. Cinta antara keduanya meluap, yang sedari tertimbun dibalik perkelahian mereka. Hadirnya Gege dan Dede’, memiliki makna bagi dua teman itu.
“Hentikan sinetron kalian!”,canda Gege’.
“Kalian tahu tempat ini?”,lanjut Dede’.
“Lembah kasih sayang?”,ucap Naruto, yang membaca tulisan dari kertas dalam genggaman Dede’. Lembah kasih sayang. Tempat yang dicari oleh pasukan gembala kembar itu. Namun, yang tertera di atas selembar kertas itu bukanlah peta. Tetapi, hurup yang berurutkan LEMBAH KASIH SAYANG.
“Iya.”,senyum
kakak beradik itu, memperlihatkan gigi susu mereka yang mulai berkarat.
“Ini bukan lembah kasih sayang. Tapi lembah kematian.”,jelas Sasuke menunjuk tempat mereka berpijak sekarang. “Lembah kasih sayang itu ada disini.”,lanjutnya merangkul Naruto, kemudian menunjuk dadanya. Bukan dada. Tetapi sesuatu yang terdapat dalam rongga dada itu. Apalagi, kalau bukan hati, atau jantung. Tempat berdiamnya lembah kasih sayang yang dicari pasukan gembala kembar itu. Kedua teman, dan pasukan gembala kembar itu tertawa. Emosi, kebencian, dan cinta yang tulus bernama kasih sayang itu meleleh diantaranya. Namun, apakah lembah kasih sayang yang sebenarnya telah di temukan oleh mereka?
“Ini bukan lembah kasih sayang. Tapi lembah kematian.”,jelas Sasuke menunjuk tempat mereka berpijak sekarang. “Lembah kasih sayang itu ada disini.”,lanjutnya merangkul Naruto, kemudian menunjuk dadanya. Bukan dada. Tetapi sesuatu yang terdapat dalam rongga dada itu. Apalagi, kalau bukan hati, atau jantung. Tempat berdiamnya lembah kasih sayang yang dicari pasukan gembala kembar itu. Kedua teman, dan pasukan gembala kembar itu tertawa. Emosi, kebencian, dan cinta yang tulus bernama kasih sayang itu meleleh diantaranya. Namun, apakah lembah kasih sayang yang sebenarnya telah di temukan oleh mereka?
***
“Apa yang kalian
lakukan?”,rasa penasaranku berbuah lebat, ketika tiga jam berlalu, dan dua
balita kembarku itu masih terbahak.
“Kakak tidak usah tahu!”,teriak si kakak.
“Lahasia.”,ikut si bungsu.
“Lahasia,lahasia. Rahasia bodoh.”,cibirku mendengar adik bungsuku yang cadel. Namun sebenarnya bukan karena itu. Tetapi karena mereka menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku kesal karenanya. “Ya, sudah.”,lanjutku.
“Kakak tidak usah tahu!”,teriak si kakak.
“Lahasia.”,ikut si bungsu.
“Lahasia,lahasia. Rahasia bodoh.”,cibirku mendengar adik bungsuku yang cadel. Namun sebenarnya bukan karena itu. Tetapi karena mereka menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku kesal karenanya. “Ya, sudah.”,lanjutku.
“Di lembah kasih sayang itu ada dua wanita cantik.”,tutur Gege
menjelaskan pada Dede’ tentang sebuah lembah kasih sayang.
“ Lembah kasih sayang? Dasar!”,batinku. Kusadar telingaku telah
berada diantara kisah rekayasa kedua adikku.
“Mengapa harus sapi?”,tanya Dede
“Karena kau takut kuda. Jadi kita tak mungkin membuat pasukan
berkuda.”
“Oh, iya. Aku lupa. Lalu Lembah kasih sayangnya sepelti apa?”
“Tanah lapang yang luas. Di langit-langitnya dipenuhi laying-layang.
Tanahnya juga subur. Di sekeliling lapangan tumbuh pohon roti dan lollipop. Sapi-sapi
kita gendut karena memakan pohon-pohon roti itu.”
“Sapi makan loti?”
“Jadi kau ingin makan rumput?”
“Tidak. tidak. Ote. Sapinya yang makan loti.”,gumam si bungu
jijik, membayangkan dirinya makan rumput.
“Anak-anak nakal itu pasti mengkhayal.”,batinku, tertawa.
Tiga jam selanjutnya berlalu, bagai satu menit. Suara riuh milik
adik-adikku mereda. Kucoba melihat mereka, dan keduanya telentang dengan lelap
di depan televisi dan juga laptop yang menyala. Kuperhatikan sekeliling mereka.
Berantakan. Artinya sebuah pekerjaan untukku. Itulah sulitnya jadi sulung untuk
dua balita kembar yang nakal. Jejemari, dan wajah mereka juga berantakan dipenuhi
spidol dan krayon. Ada gambar aneka kartun. Dari tom and jerry, SpongeBob, dan
juga kartun yang juga favoritku, yaitu Naruto. Lebih tepatnya aku yang
memperkenalkan kartun itu pada dua malaikat kecilku.
Wajah polos disaat mereka terjaga juga terlelap membuatku merasa
iri. Perasaan damai tanpa tekanan dimilikinya, sungguh membuatku juga
menginginkannya, ketimbang bebanku tumbuh dewasa. Menatap jalanku dan juga
jalan mereka yang berbeda, membuat bulu kudukku berdiri. Cerita orang-orang
dewasa tentang dulu dan sekarang yang berbeda, membuatku takut untuk mengangkat
kaki. Dunia yang kuinjak dulu dan sekarang tak lagi sama. Kadang aku berpikir
apakah ini masih dunia yang sama? Orang yang berlalu-lalang pun berbeda.
Hidupku kupertaruhkan dengan beberapa pilihan, yang entah?
“Dede’ tidak bodoh. Orang dewasa yang bodoh itu menganggap Dede’
bodoh.”,ucap Dede’. Dia mengigau, sungguh lucu. Tak kebayang bagaimana mereka
saat tumbuh dewasa?
“Dua wanita cantik yang ada
di lembah kasih sayang itu, Ibu dan Kakak.”
ILUSI SANG PEMBISIK
*Fz_kyah*
Hembusan
udara dingin dengan awan yang sedikit melayu telah menjadi bukti awal
perjalanannya di suatu daerah yang
dipenuhi segelintir penghuni dengan otak segudang. Daerah pusat pelajar itu
menjadi tempatnya menikmati masa remaja. Bergelut dengan buku adalah makanan
sehari-harinya. Ia yang dikenal sebagai sosok yang sangat ramah dengan hati
yang lembut menjadikannya disenangi oleh teman-temannya.
Tak sengaja
aku mendengar sebuah suara,”Trie yang baik itu?”, “iya, Trie!”. Dari situlah
aku mulai melakukan penyelidikan,ada apa dengan Trie yang terkenal dengan
sosoknya yang ramah dan lembut, yang telah menjadi buah bibir di daerah ini?
Tanpa ku sadari, ku bertemu dengan sosok misterus,”Maaf, Anda kenal
Trie?”tanyanya.
Seolah
mengenalnya, ku beranikan jawab “iya”.
”Bisakah kau
mngantarkan ku kepadanya?”
“Maaf, Trie
sedang pergi.”
Tanpa basa
basi, sosok misterius itu pun meninggalkan tempat ini. Semangatku untuk
mengenal Trie semakin memuncak. “Trie, Trie, Trie.siapa dia?”batinku. Dalam
perjalanan ke kampus, ku melihat segerombolan orang berkumpul membentuk sebuah
lingkaran.
“Disana ada
apa?”tanyaku pada salah satu teman yang bersamaku.
“Dengar-dengar
ada seorang mahasiswa yang sangat baik. Ia setiap minggunya memberikan makanan
gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.”
“Siapa?”
“Kalau tidak
salah namanya Trie.”katanya
“Hah?
Trie?”jawabku dengan terkejut.
“Kenapa? Kau
mengenalnya?”tanyanya.
“Tidak, aku
hanya penasaran. Siapa dia sebenarnya?”
Aku pun
semakin penasaran dan mulai mendekatinya. Sejenak aku terdiam seolah takut
untuk mendekat, takut akan sosok yang penuh tanda tanya ini. Tapi, untuk apa
aku takut dengan seseorang yang tak ku kenal? “Ah, kenapa harus takut?”batinku.
Setelah
mendekat, mataku melotot melihat sosok yang tak asing bagiku. Sosok yang selalu
bersamaku saat berada pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Trie yang selama
ini ingin ku kenal ternyata adalah teman lamaku.
“Hei, kamu…..?”sapanya.
“Iya, aku.
Kamu Tasya?”tanyaku.
“Tak salah
lagi,hanya kau yang selalu memanggilku dengan nama Tasya.”
Dugaan yang
selama ini ku hayalkan ternyata jauh dari kebenaran. Trie Anastasya adalah
teman lamaku yang memang sangat baik dan sangat pintar. Ku tak tau harus
bagaimana lagi setelah mengetahui kalau Trie itu adalah Tasya. Apa lagi yang
tidak ku ketahui tentangnya? Aku sudah tau semua tingkah laku Trie, sampai pada
keluarganya yang juga sangat baik kepadaku.
Namun,
setelah kembali ke rumah sewaan, aku kembali teringat akan sosok misterius yang
menanyakan tentang Trie itu. Seorang laki-laki yang gagah,tampan dan
berwibawa mengenakan pakaian seragam
polri. Yah, sosok laki-laki idaman Trie semasa sekolah bersamanya. Tapi, untuk
apa ia mencari Trie?
Aku tak ingin
menyampaikan hal ini kepada Trie. Aku takut akan sosok misterius itu akan
menjadi pilihan hati Trie. Aku takut kehilangan Trie yang dulu pernah singgah
dihatiku. Trie yang selalu mengutamakan pendidikannya tak sadar akan cinta yang
ku pendam. Namun,Trie selalu menyebarkan kasih sayang kepada semua orang
disekelilingnya.
Sosok
misterius itu kembali datang. Ia kemudian bertemu dengan Trie. Namun yang
kulihat, Trie sangat heran dan terkejut melihat sosok yang ia impikan dari dulu
tegak berdiri di depannya. Tapi, apakah itu hanya perasaan cemburu yang bergema
dihatiku?
Sosok
misterius itu kulihat tengah membawa sebuah kunci dari tali. “Kunci?” tanyaku
pada Trie. “iya, dia telah menemukan kunci dari tali yang selama ini aku cari.
Aku juga pernah mendapat bisikan dari seorang laki-laki tua bahwa akan ada
seseorang yang akan memberikanmu kunci dari tali, ia adalah malaikat tak bersayap.”
“kamu
serius?”tanyaku dengan nada keras tak terkontrol.
“iya, maafkan
aku, aku tau maksudmu. Maaf!”gumamnya.
Aku pun
terpuruk dengan kesedihan dalam beberapa lama. Namun, aku sadar akan takdir
illahi, aku akan berusaha melupakannya dan selalu mengenangnya tanpa ada rasa
benci. Tapi, akankah Trie bahagia dengan pilihannya? Akankah semua ilmu yang
dimilikinya akan berguna? Akankah malaikat tak bersayap mengerti tentang Trie?
MIMPI DINDA
*Cha*
“Ada apa veb?,” tanyaku kepada veby.
“mengapa kamu memakai seragam pramuka,? inikan masih hari rabu.
Kan kamu juga bukan anggota pramuka?,”
jawab veby sambil menahan tawanya.
Akupun melihat seragam yang kupakai ternyata benar aku memakai
seragam pramuka. Seisi kelas pun menertawai ku dengan rasa malu aku pergi ke
UKS. Di UKS aku membuka seragam pramuka ku, setelah kubuka ternyata baju batik
berada dibalik baju pramukaku. “Bodohnya
aku! Bagaimana bisa aku memakai dua buah seragam sekaligus?,” ucap ku dengan
nada yang agak jengkel sambil memukul-mukul kepalaku sendiri. Tiba-tiba muncul
suara dari belakang.
“Dinda, apa yang kau lakukan disini?,” ucap sesorang dibelakangku,
yang spontan membuatku kaget, sebab aku pikir hanya ada aku di ruang UKS.
Dengan gemetar aku membalikkan badan ku, dan ternyata orang itu adalah Riska,
seorang kakak kelas yang manis dan juga merupakan pacar kakakku.
“oh, ternyata kakak!, kirain siapa? Aku gak lagi ngapa-ngapain kok
kak!. Kakak sendiri ngapain disini?,” jawabku dengan lega.
“Aku lagi cari obat galau,” jawabnya dengan nada yang begitu
datar.
“Ah, kakak bisa aja!, kalau begitu aku masuk duluan yah kak!” ucap
ku dengan sedikit tawa.
Setelah itu aku berlari kecil menuju kelasku, karna tidak
hati-hati aku menabrak seseorang yang keluar secara tidak terduga dari sebuah
kelas. Aku pun langsung tersungkur dilantai begitu juga dengan orang yang
kutabrak itu. Dengan cepat aku langsung
berdiri dan membantu oraang itu berdiri, betapa kagetnya aku ternyata orang itu
adalah kak Riska.
“maaf kak!,” ucap ku dengan suara terbata-bata.
“oh, kamu din!, gak apa-apa kok,” ucap kak Riska dengan sedikit
senyum.
“kok, kakak ada disini sih?,” tanya ku dengan sedikit rasa
penasaran bercampur takut.
“lah!, inikan memang kelas kakak, kamu ini gimana sih?,” ucap kak Riska.
Yang makin membuatku takut.
“bukannya kakak tadi lagi di UKS?,” tanyaku lagi sambil keringat
mulai membasahi wajahku.
“UKS?, kapan kakak ke UKS?, perasaan kakak gak pernah ke UKS deh
din!. Udah kamu masuk kelas gih!,” jawab kak Riska dengan muka yang terlihat
bingung.
Aku pun menuju kelas ku dengan perasaan takut dan berusaha
melupakan kejadian tadi. Setibanya di kelas, ternyata telah ada guru yang
mengajar, akupun mengetuk pintu.
“assalamu alaikum pak!,” ucap ku dengan sopan.
“walaikum salam, Dinda dari mana saja kamu? Ini sudah jam
berapa?,” ucap pak guru dengan nada yang agak keras.
“Maaf pak, tadi saya ke UKS, lagian cuman telat beberapa menit kok
pak,” jawabku dengan gugup.
“kamu kesekolahnya jam berapa? Lihat ini sudah jam berapa?” tanya
pak guru dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya.
Akupun berbalik melihat jam dinding dan ternyata jam menunjukkan
pukul 01:45 siang. Betapa kagetnya aku, pada saat itu pula bel pulang sekolah
berbunyi. Akhirnya aku hanya bisa meminta maaf kepada pak guru dan setelahnya
akupun berjalan pulang.
Di perjalanan pulang aku melihat anak perempuan berbaju merah
menembus dinding, betapa kagetnya aku karna kejadian itu. Akupun mulai
mempercepat langkah ku, sampai di persimpangan aku melihat seorang anak
laki-laki memakai jaket hitam sedang memakan seekor anjing. Saat aku
meneriakinya, dia langsung berbalik dan menatapku. Aku hanya bisa terdiam
seperti batu. Anak laki-laki itupun berdiri, spontan membuat jantungku berpacu
begitu cepat dan keringat mengalir begitu deras. Anak laki-laki itupun lantas
langsung terbang kelangit, yang membuatku semakin takut. Akhirnya aku berlari
pulang kerumah. Aku langsung masuk kekamar dan menguncinya dari dalam.
Aku berusaha menenangkan diri didalam kamarku sendirian, tapi ada
seorang yang mengetok jendela kamarku dan ternyata itu adalah anak laki-laki
tadi. Aku ketakutan dan tak bisa bersuara, saat aku berbalik, anak perempuan
yang tadi muncul menembus pintu kamar ku dan membuatku merinding, tiba-tiba aku
terbangun dan tersadar bahwa ternyata semua itu adalah mimpi yang mengerikan.
Sebelum aku tidur kembali, aku membaca doa sebelum tidur. Dan
keesokannya aku bangun dengan wajah tersenyum karna mimpi ku semalam begitu
indah.
PUTRI TANPA MAHKOTA
*nyong*
Sekarang dia sudah duduk di bangku SMA kelas 2, tapi
dari kecil sampai sekarang tidak ada
yang berubah darinya. Dia masih saja seperti seorang putri yang mana
keinginannya harus dituruti dan barang barangnya sama sekali tidak bisa diganggu,
Seperti siang ini, saat ibu dan kakak April yang bernama Indah sedang memasak
di dapur untuk menyiapkan menu makan siang, dari balik kamar terdengar suara
April yang sedang asyik melantunkan lagu Korea kesukaannya, sambil sesekali
April mengeraskan suara televisi untuk mendengarkan kembali lirik lagu Korea
yang sedang disenandungkannya. Tiba tiba April teringat kalau besok ada ulangan
harian, diapun segera bergegas menghampiri buku buku pelajarannya, segera
diambilnya buku mata pelajaran bahan ulangan besok untuk dia pelajari. April
memang anak yang rajin belajar dia juga berprestasi disekolah, walaupun dia
seorang yang manja tapi untuk urusan belajar dia tidak pernah bermalas malasan
karna dia punya cita cita ingin menjadi dokter seperti harapan ibu dan
kakak-kakaknya.
ngeeeeeeeekkk!!!,,,suara
pintu kamar yang sedang terbuka, April pun sontak kaget, ternyata yang berdiri dipintu adalah ibu,,''Huuuhh
ngagetin aja bu, hampir aja jantungku copot'' kata April, sambil tersenyum ibu pun menjawab,
"ayo makan dulu, keburu dingin lho, entar ngambek lagi'',, tampak April
tetap serius menatap buku pelajarannya, "entar dulu bu, lagi nanggung nih
'' jawabnya dengan muka ketus,,''ya udah kalo gitu, tapi jangan kelamaan ya''
kata ibu sambil meninggalkan April didalam kamar,.selang 20 menit kemudian
April baru beranjak dari tempatnya menuju meja makan, walaupun makan siang
bersama anggota keluarga telah dilewatkan oleh April tapi dia tetap lahap
menghabiskan makan siangnya untuk kembali belajar.
Tak terasa hari sudah
hampir sore, April bergegas merapikan kembali buku bukunya yang berantakan,
belajar hari ini sudah cukup baginya untuk bekal bertarung besok,,diapun
menghabiskan waktu luangnya menonton TV apalagi kalau bukan film
Korea,,ditemani keponakannya yang masih berumur dua tahun yang sedang bermain
juga didekatnya,,saking seriusnya menonton April tidak menyadari kalau
keponakan yang tadinya bermain didekatnya kini sudah berada di kamar sendirian
untuk mencari permainan baru, benar saja!! buku-buku pelajaran April yang kini
menjadi sasaran mainnya, diambilnya buku April dan dicoretinya dengan
pulpen,menyadari siponakan sudah tidak ditempat April pun bergegas masuk kamar
untuk mencari tahu apa yang diperbuat makhluk kecil itu dan betapa kagetnya dia menyaksikan bukunya
kini sudah tak berbentuk lagi,,spontan April langsung berteriak sambil menangis
''ibuuuuuuuuuu.....kakaaaaaaaaakkk'' ,,mendengar teriakan April ibu dan Indah
sontak berlari mendekati April, ''ada
apa sih? teriak-teriak '' kata ibu,,''liat nih bu,
gimana aku ngga teriak kalau buku aku sekarang modelnya kayak gini?'' dengan
muka cemberut Indah pun berkata ''oh kirain apaan, baru aja kami puji kamu dek,
kok tumben tumbennya kamu ngga ada suara hari ini, eh ternyata kami
salah''..dengan lantang April menjawab sambil tetap menangis,''kakak tuh ngga
bisa jagain anaknya sendiri jadi nya buku aku deh yang jadi sasaran, pokoknya
aku ngga mau tau kakak harus bertanggung jawab''..''tanggung jawab gimana
maksudmu''? kata indah bingung,."aku mau kakak menulis kembali catatanku
untuk dipindahkan dibuku yang baru, titik'' kata April tegas,,alisnya berkerut
mendengar pernyataan adiknya itu "huuuffftt dapat kerjaan baru nih kakak?
ngga ada tawaran lain yah? masa sih kakak harus berhadapan dengan buku lagi ? gumam
Indah,,tidak ingin perdebatan anaknya semakin berlarut-larut, ibu pun langsung
menengahkan keduanya ''udah-udah ngga usah bertengkar, April, bisa ngga ada
masalah diomongin baik-baik ngga usah pakai teriak-teriak segala apa kamu ngga
malu setiap hari didengar tetangga apalagi kamu itu sudah bukan anak kecil lagi
loh, kamu juga Indah baiknya kamu mengalah aja dari pada adik kamu menangis
kayak gini, kamu tahu kan kalau lawan si April ngga ada habisnya mendingan kamu
yang ngalah deh kan kamu yang lebih tua''..mendengar ibunya yang sudah marah
indah pun mengalah ''iya iya deh bu kalau gitu’’,,dengan ketus indah pun
menerima hukuman yang diberikan adiknya itu, melihat kakaknya akhirnya mengalah
juga sambil tersenyum karna keinginannya dikabulkan April pun berceloteh
menggoda kakaknya ''kak dirumah ini akulah sang putrinya walaupun tanpa
mahkota, jadi ngalah aja deh kak,,kan sayang adik, hehehe...tapi sebenarnya aku
juga ngga mau seperti ini terus, setiap
hari galak dan bikin repotin orang rumah, aku mau berubah kok, doakan ya kak
semoga kelak aku bisa menjadi putri yang bijak dan ngga manja lagi (sambil
mengusap sisa airmata yang masih menempel di pipinya)” ibu dan kakak april
serentak menjawab..amin,,mereka terharu mendengar April ngomong gseperti itu,
merekapun saling berpelukan dengan gemasnya indah menciumi adiknya,memeluknya
dan berharap kelak adik kesayangannya itu bisa
berubah jadi lebih baik dan menjadi kebanggaan keluarga.
PERAYU SEJATI PECINTA BURUK
*a.nur*
Entah
apa yang ada di fikiran Dandy yang selalu merangkai kata-kata rayuan yang
hampir setiap hari ia lontarkan dari mulutnya.
Bel
berbunyi, pertanda siswa harus masuk ke kelas. Dandy yang bersekolah disalah
satu SMA favorit di Kabupaten Soppeng, yaitu SMA Negeri 1 Watansoppeng. Ia
sudah kelas XI dan mengambil peminatan Matematika dan Ilmu Alam 2. Dandy yang
dikenal tampan, ramah, rajin, dan pintar. Banyak siswa perempuan yang suka
dengannya karena kepribadiannya itu. Tetapi, tak seorang pun yang dapat
meluluhkan hati Dandy.
Malam
ketika Dandy sibuk membalas chat dengan teman cewek di jejaring sosial facebook
walau hanya teman sekelas. Tiba-tiba kakak Dandy menghampirinya dan berkata
“Gak bosan tuh ngejomblo mulu? Tiap hari loe sibuk balas chat teman cewek loe.
Haha… kapan kamu punya pacar?” tanya Beny
dengan tertawa. “Gak usah dipikirin itu dulu kak, aku ini kan masih muda, yaa
mungkin di luar sana banyak yang mau sama aku…”
jawab Dandy
Beny
meninggalkan adiknya sambil tertawa.
Sudah
pukul 07.05. 10 menit lagi bel masuk berbunyi. Rifky sahabat Dandy yang sudah
lama menunggu. Karena tidak biasanya Dandy terlambat ke sekolah. Apalagi rumah
Dandy dekat dari sekolah. Tak lama kemudian, tepat pukul 07.15, Dandy tiba di
sekolah dan bel pun berbunyi.
Setelah
mengikuti 4 jam pelajaran dan 2 jam di antaranya adalah bidang studi matematika
wajib. Rifky mengajak Dandy untuk makan di kantin yang biasa ia selalu makan.
Di tengah perjalanan Rifky bertemu dengan adek kelas yang bernama Kirana dan
menyapa Rifky “Hai kak..”. Rifky menjawab “Hai juga dek. Mau kemana?”. “Aku mau
ke perpustakaan untuk mencari buku dan mengerjakan tugas. Aku duluan ya kak”,
jawab Kirana lalu pergi. Dandy dan Rifky juga pergi ke kantin. Selesainya
mereka makan, Dandy bertanya kepada Rifky “Kamu kenal sama cewek yang tadi?”.
Iya aku kenal, emangnya kenapa?”, tanya Rifky balik. “Dia cantik, kenalin donk…”, jawab Dandy. “Emm, giliran cewek mau aja..
iya deh aku kenalin, nanti aku kasih nomor handphonenya.
Keesokan
harinya, Dandy dan Rifky berjalan-jalan mengelilingi sekolah, tiba-tiba datang
seorang cewek yang kebetulan teman Kirana dan menghampiri Dandy lalu berkata,
“Hai kak, aku punya teman yang mau kenalan sama kakak, tunggu sebentar yaa..”.
Beberapa menit kemudian Kirana datang dan berkata, “Kenalkan nama aku Kirana,
kalau kakak siapa?”. “Aku Dandy, kamu dari kelas mana?” jawab Dandy. “Aku dari
kelas X MIA 1”, jawab Kirana. Dandy yang selalu menatap wajah Kirana yang
begitu cantik dan membuat Kirana tersipu malu. Beberapa saat kemudian bel
berbunyi pertanda waktu sudah pulang.
Sesampainya Dandy di rumah, sifat Dandy
berubah yang semula ia tidak pernah serius dalam belajar, kini ia tekun belajar
dan ia pun jarang membuka akun media sosialnya. Hari terus berlalu, ia terus
memikirkan wajah Kirana. Suatu hari, Danndy mendapatkan nomor handphone Kirana
dan ia mencoba menelfon Kirana.
Dandy
: halo, ini dengan Kirana ya?
Kirana
: iya, ini dengan siapa?
Dandy
: aku Dandy, aku mendapat nomormu lewat Rifky, gak apa kan?
Kirana
: gak kok
Dandy
: oiya, tolong disave yah!
Kirana
: iya.
……………
Hari
terus berganti, perkenalan mereka pun semakin berlanjut dan Dandy pun mulai
menyukai Kirana. Mereka saling suka dan akhirnya mereka menjalin suatu hubungan
yang dinamakan pacaran.
Minggu
pertama Dandy pacaran rasanya masih cinta, minggu kedua pun rasanya masih
cinta, minggu ketiga rasanya tetap cinta, dan tepat satu bulan mereka pacaran
rasa cinta itu mulai hilang.
“Kenapa
sih akhir-akhir ini kamu mulai cuek sama aku, aku salah apa sama kamu?” tanya
Kirana dengan wajah cemberut. “Gak kok..” jawab Dandy dengan cuek. “Terus,
kenapa sifatmu berubah sama aku?”. Dandy hanya menatap wajah Kirana kemudian
pergi dengan wajah yang kesal.
Sepulang
sekolah, Dandy yang biasa selalu menelfon Kirana dan terkadang ia mengutarakan
kata-kata rayuan kepada Kirana, kini handphonenya tidak pernah diaktifkan. Ia
pun mulai tidak menghubungi Kirana. Hidup Dandy yang semula sedih, lalu bahagia
dan kembali sedih. Ia menganggap bahwa punya pacar ataupun tidak hidupnya
selalu sama, tidak berubah.
Beberapa hari
kemudian, Dandy mulai kesal dengan sifat Kirana yang selalu ingin perhatiin,
dimanjain, dan harus menuruti apa yang dia inginkan. Dandy tidak suka dengan
dengan tipe cewek yang seperti itu. Itu membuatnya merasa terganggu. Dandy
memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kirana dan kembali menjomblo
seperti dulu.
Masalah
percintaan Dandy memang tidak sesuai yang dia inginkan. Terkadang, ia selalu
merangkai kata-lata rayuan atau kalimat dalam bahasa cinta tetapi itu tidak
sesuai dengan kisah cinta yang dialami Dandy.ia harus menerima nasib cintanya
seperti sekarang ini.
“Awal dari rasa cinta akan tetap cinta jika
pintar mengolah rasa cinta itu agar tetap cinta….”
SEPTEMBER
TAK PERNAH CERIA
MENGGELEGAR
DAN MENGGUNCANG Soppeng.
Tubuh-tubuh terpelanting, bersimbahan serpihan kaca yang bertaburan. Merah
kental sontak menyaput hitam aspal jalanan. Beribu wajah mendadak berubah pias,
berbalut ketakutan. Asap putih pekat membumbung. Pelan, tapi semakin meninggi.
Suasana menjadi kacau-balau dan mengerikan, berbaur air mata yang bercucuran
membasuh muka.Bukan, bukan bening! Merah, karena tercampur darah.
Di mana-mana
hanya terdengar erangan, rintihan dan ratapan. Tangis semakin menjadi-jadi,
diselingi jerit kesakitan. Berteriak, namun tiada harapan. Tampak jalanan
semakin merah dengan potongan tubuh manusia yang berserakan. Banyak!
Tercerai-berai di bawah kendaraan, pepohonan dan bangunan berhampiran. Api masih berkobar panas, serakah menjilat
sisa bangunan. Percik darah juga semakin banyak, menggumpal di tepi trotoar dan
mewarnai rontok dedaunan. Bagaikan menjadi saksi akan hilangnya rasa
kemanusiaan.
Perlahan
waktu beringsut. Tuding sana-sini berhamburan. Kambing hitam mendadak
dimunculkan di mana-mana. Telunjuk menuding tanpa menggunakan nalar pikiran,
apalagi hati. Jutaan jiwa yang bersih
terhenyak dan termangu. Ingin membantah, namun tiada daya. Hanya tertunduk,
menyerah pada kehinaan dan pasrah pada ketidakberdayaan. Air mata pun mengembang di kelopak mata,
menitik dan jatuh mengalir membasahi bumi yang merekah.
Sementara di
belahan bumi sana ada yang tertawa-tawa senang. Terbahak-bahak hingga perutnya
yang gendut terguncang-guncang. Bertepuk tangan dengan riang gembira padahal
kedua tangannya berlumuran darah. Sabra dan Shatila ... September, dua puluh
dua tahun silam juga bersimbah genangan darah. Di sebuah sudut teronggok
mayat-mayat yang membengkak, korban penjagalan. Pembunuhan meninggalkan
wanita-wanita yang terburai isi lambungnya. Banyak! Tak terhingga jumlahnya.
Para wanita hamil hidup-hidup dirobek perutnya dengan bayonet, sehingga bakal
bayi-bayinya bisa direnggut keluar. Gadis remaja diperkosa sebelum dijagal.
Raut wajah mereka tak rela, karena kebejatan sang durjana. Sementara remaja
pria dikebiri kemaluannya.
Di sudut
lain, bayi-bayi mungil menjadi hitam legam karena terpanggang. Mereka
bergelimpangan di jalanan bagaikan gunungan sampah. Lalat-lalat berkerubung,
berlomba-lomba hinggap di kental darah. Di sampingnya, tak terkira cabikan
tubuh laki-laki dewasa yang bertebaran di mana-mana. Pun ada yang sedang
memeluk sayang buah hatinya dengan punggung berlubang. Dan, ada pula mata-mata bercelak
yang terbelalak karena buah hati tercinta disayat-sayat di depan hidungnya.
Tak terhitung
selongsong peluru senjata mesin dan magazine, hingga pecahan granat yang
berserakan di sela-sela potongan kepala, tangan, atau kaki yang dipenggal.
Senjata penjagal memang tak bermata, menggorok, menerjang dan membunuh siapa
saja. Bayi, remaja, orang dewasa, tua renta bahkan janin-janin menjadi korban
yang tak berdosa. Tak hiraukan pula tempat dan kapan terjadinya. Di pos-pos
pemeriksaan, pasar, rumah sakit, sewaktu berdiri di pojok jalan bahkan di atas
ranjang.
Belasan ribu
mereka yang tak berdosa kehilangan nyawa, dan setengah juta orang kehilangan
tempat tinggal. Hingga sekarang penjagal itu masih ada di bumi Al Aqsa, dan tak
pernah berhenti meneteskan darah para syuhada. Ia bebas berkeliaran karena
dilindungi oleh penjagal lainnya dari sebuah negara adikuasa. Entahlah ...
September seakan tak pernah ceria seperti sebuah tembang yang pernah tercipta
dan berkisah tentang selarik harapan cinta dan asmara. September yang sekarang
ada hanyalah air mata, putus asa, jerit ketakutan, dan genangan darah bercampur
cabikan tubuh yang tercecer di belahan bumi mana saja.
Astaghfirullah ...
SI
PEMUDA DAN PANDANGANNYA
*faiz*
“hmm .. indah betul kota ini ,
bangunannya Ok , Makanannya pun Ok , apalagi Penduduknya, Oknya kebangetan”
gumannya dalam fikiran.
Tak lama waktu berjelang , ia tiba
di sebuah perempatan yang membuat hatinya seakan delima
“kanan ? ahh .. kelihatannya ramai
sekali .. kiri ? malah Nampak sunyi sekali. Lurus aja ahh” .
Akhirnya
ia memutuskan untuk mengambil jalan yang berada di hadapannya . seiring
berjalannya waktu , ia tiba-tiba berhenti melangkah tepat di depan sebah tokoh
penjual keramik . keramik yang terpajang di tokoh tersebut sungguh indah dan
menawan . namun keindahan keramik tersebut bukanlah hal yang menyebabkan si
pemuda tadi berhenti melangkah . Di hadapannya tepat berdiri sekelompok lelaki
dengan penampilan yang sangat menakutkan, tattoo naga jelas tergambar di lengan
sebelah kanan dari salah seorang lelaki di kelompok tersebut . karena merasa
agak ragu untuk melanjutkan perjalanannya , terpaksa pemuda tersebut mengambil
akal untuk bersembunyi sejenak di tokoh keramik yang tepat berada di sampingnya
hingga sekelompok lelaki tadi pergi menjauh .
Beberapa menit pun berlalu .
akhirnya si pemuda tadi beranjak keluar. Akan tetapi , sekelompok lelaki tadi
masih saja berada di posisinya . karena merasa tak sanggup lagi , si pemuda
memutuskan untuk beranjak pergi. Namun, tiba – tiba
sesuatu mengejutkan terjadi . seorang wanita tua Nampak sedang berdiri di
pinggir jalan sambil membawa tas hasil belanjaan . sekelompok lelaki tadi tiba – tiba
mendekati wanita tua tersebut .
“wah .. gawat , mau apa mereka !?” .
gumannya dalam hati sambil memikirkan setiap kemungkinan buruk yang datang .
Tiba-tiba salah seorang lelaki dari kelompok tersebut
mengangkat tas bawaan wanita tua tadi , sedangkan yang lainnya mengelilingi si
wanita tua layaknya seorang artis papan atas dengan para bodyguardnya .
prasangka buruk yang berada di kepala pemuda tadi tiba – tiba
musnah dalam hitungan detik .
ternyata , mereka bukanlah orang
yang jahat . mereka malah ingin menolong wanita tua tersebut dengan senang hati
“ pikirnya dengan perasaan yang legah.
Si pemuda tadi akhirnya memutuskan
untuk melanjutkan perjalanannya . di
tengah perjalanan ia melihat sebuah patung yang diukir indah oleh pembuatnya .
karena merasa tak ingin kalah eksis dari pemuda dan pemudi yang lain , akhirnya
ia memutuskan untuk mengambil beberapa foto di tempat tersebut . karena merasa
kurang seru jika hanya ber selfie . maka ia memutuskan untuk meminta
pertolongan dari salah seorang pengunjung di tempat tersebut .
“sir , can you help with this ?
please take a picture of me by this camera” . pintanya
“ohh .. of course I’ii glad to help
you my friend”. Balas orang tersebut.
Akhirnya si pemuda tadi berjalan ke
dekat patung tersebut. Namun, tiba-tiba si pengunjung tadi lari sepenuh tenaga
dengan membawa kamera si pemuda.
“SIRR .. !! WOI , COME BACK HERE
!!”. teriak si pemuda tersebut setelah sadar bahwa kameranya telah dicuri.
Ia kemudian berlari dengan sepenuh
jiwa dan raga mengejar si pencuri tadi. Kerumunan orang tak lagi ia pedulikan,
layaknya bintang aktor yang sedang beraksi dalam adegan kejar mengejar. Si
pemuda tadi terus berlari sambil meneriakkan kata “THIEF” tanpa lelah
sedikitkun. Bagaimana tidak, kamera tersebut berisi foto-foto yang sangat
berharga baginya.
Setelah kurang lebih 1,5 km berlari
, akhirnya si pencuri dan si pemuda tadi mulai kelelahan. Kecepatan mereka yang
awalnya 10 m/s kini menurun menjadi 5 m/s. hingga akhirnya si pemuda tak lagi
mampu bertahan dalam sengitnya adu balap. Ia berhenti dengan air keringat yang
membasahi tubuhnya. Ia kemudian berjalan dengan kedua tangan berada di lengan
dengan muka yang masa.
“Sir .. !”. terdengar suara yang
tiba-tiba membuatnya kaget
“ye .. s?”. jawab si pemuda dengan
nada agak ragu karena yang berada di depannya ternyata seorang lelaki dengan
tattoo naga di tangan kanannya.
“it’s yours .. ?” . katanya sambil memegang sebuah
kamera putih bermerek Can*** di tangannya.
“YES .. !! that’s mine”. Balasnya
senang
“please be careful next time”.
Lelaki tersebut memberikan kamera yang ia pegang kepada si pemuda.
“Ok . I’ii . but thanks before”.
Jawabnya dengan wajah yang tak lagi nampak masam .
“your welcome”.
Setelah kejadian itu, si pemuda
beranjak pulang ke tempat ia menginap. Di penginapan , ia merenungkan apa yang
telah ia pelajari hari itu .
“ternyata .. kata orang dulu memang
benar . kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya, tetapi nilailah
orang dari dalamnya”. Ucap pemuda itu kepada dirinya sendiri dengan senyum
manis yang tergambar di bibirnya.
WIDY
*opang*
Di suatu pagi, seperti
biasa Widy berangkat sekolah pagi-pagi sekali, dan tiba di sekolah bersamaan
dengan tibanya satpam sekolah. Windy berjalan menuju kelasnya, dari kejauhan ia
melihat seorang lelaki duduk di depan kelasnya, meskipun agak penasaran Widy
hanya berjalan melawati lelaki tersebut dan masuk ke kelasnya. Sampai tiba jam
masuk, lelaki itu tetap duduk di depan kelas meskipun semua murid telah masuk
kekelas masing-masing, hingga kepala sekolah masuk bersama lelaki itu. “Permisi
pak, ini ada murid baru yang akan di tempatkan dikelas ini”, ungkap kepala
sekolah. Lelaki itu lalu memperkenalkan dirinya “Perkenalkan nama saya Miko
Triputra, kalian bisa memanggil saya Miko, saya pindahan dari SMA Bimasakti
Bandung” Ungkapnya sambil tersenyum manis. “Silahkan duduk disamping Widy”.
ucap kepala sekolah sambil menunjuk ke arah Widy, setelah tu kepala sekolah
keluar dari kelas dan pelajaran kembali dilanjutkan.
Saat pelajaran di mulai
kembali widy hanya memperhatikan guru dan sesekali mencatat hal yang ia anggap
penting. Ia tidak pernah menyapa, tersenyum, apalagi memperkenalkan dirinya
pada Miko. Ia seakan hanya berdua dengan guru dalam kelas, Miko merasa
disampingnya tidak ada seorangpun sangking dinginnya sikap windy padanya,
meskipun ia sering berbalik dan
tersenyum pada widy tapi widy tetap saja bersikap dingin. Sementara itu murid
perempuan dalam kelas mulai curi-curi pandang pada Miko, dan Miko hanya
menanggapi hal tersebut dengan senyumnya yang manis.
Saat jam istirahat tiba
Widy dan Miko tidak ke Kantin, mereka berdua sangat serius dengan hal yang
mereka kerjakan. Widy sibuk dengan belajarnya dan Miko hanya duduk disampingnya
sambil membaca novel. Lama kelamaan beberapa perempuan datang menghampiri Miko
untuk sekedar menyapa, berkenalan, ataupun minta nomor handphonenya, sementara
widy tetap serius belajar. Hingga Miko mulai bertanya.
“Hy! mengapa kamu tidak ke
kantin?,” tanya miko sambil tersenyum manis.
“Aku tidak lapar, disaat
jam istirahat seperti ini aku memang biasanya mengulangi pelajaran yang barusan
di pelajari. Tapi nanti aku juga ke kantin kok, buat beli minum. Kamu sendiri
mengapa tak ke kantin?,” Ucap widy dengan nada yang datar.
“Kamu lupa yah, aku inikan
anak baru, aku belum tahu betul seluk beluk sekolah ini. Dan tentu saja aku
menunggu seseorang untuk mengajakku ke kantin,” jawab miko dengan nada agak
menyindir.
“Baiklah aku mengerti, jadi
apakah kamu mau aku temani ke kantin?,” Tanya widy sambil membereskan bukunya.
“Yap!, huft... tentu saja
aku mau”
Mereka berdua lalu berjalan
ke kantin bersama. Setibanya di kantin mereka berdua hanya membeli minum, lalu
duduk bersama. Miko merasa semua mata di kantin tertuju padanya dan widy.
“Apa hanya perasaan ku atau
kita memang lagi diperhatikan seisi kantin?,” tanya miko dengan suara yang
pelan.
“sudah jangan hiraukan,
setelah ini aku akan membawamu berkeliling sekolah,” Jelas Widy
Setelah mereka selesai di
kantin, Widy menepati janjinya membawa miko berkeliling sekolah. Sampai tiba di
depan ruang guru Widy di panggil oleh Ibu Aminah, ia pun menghampiri Ibu Aminah
dan menyuruh Miko masuk kekelas lebih dulu. Miko pun berjalan kembali kekelas, sampai di dalam
kelas ia langsung duduk di tempatnya sambil lanjut membaca novel. Hingga Agung
yang merupakan ketua kelas menghampirinya dan bertanya.
“Hy!, kamu Miko kan?.
Bagaimana caramu mengajak Widy ke kantin sampai ia bisa menerima ajakan mu?,”
Tanya Agung sambil menatap serius.
“Aku tak mengajaknya, dia
yang mengajakku ke kantin,” Jawab Miko.
“Bagaimana mungkin? Selama
ini ia selalu bersikap dingin pada laki-laki, bagaimana bisa ia mengajakmu ke
kantin?,” Tanya Agung dengan serius.
“Sudahlah, hal itu kau
tanyakan saja pada Widynya langsung,” jawab miko dengan santai.
Bel masuk pun berbunyi,
dengan masih penasaran Agung berjalan kembali ketempatnya, tapi ia terhenti
ketika widy berjalan melewatinya, Agung pun menyapa Widy. Widy hanya berbalik
dan tidak memberi tanggapan. Saat pelajaran dimulai Widy kembali terfokus
kedepan, dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Keesokan harinya Widy dan Miko
sama–sama
bersikap dingin, Widy telah dianggap wajar bersikap dingin karna dari dulu dia
hanya peduli dengan masalah pelajaran saja, berbeda dengan Miko yang kemarin
begitu ceria hari ini Miko terlihat gelisah dan seakan memikirkan sesuatu,
seharian ini Miko dan Widy tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun satu sama
lain. Begitu pula esok harinya dan esoknya lagi. Hingga tersebar gosip bahwa
Miko sakit hati pada Widy akibat ia ditolak cintanya, karna itu mereka tak
pernah berbincang lagi. Miko dengan cepat menanggapi gosip itu. “Aku dan Widy
baik-baik saja, tak ada masalah diantara kami,” Jelas Miko. Widy juga ikut
berkomentar “Miko tak pernah menembakku, di antara kami tidak ada masalah
apapun”. Lambat laun gosip itu mulai menghilang. Sebenarnya, Widy memiliki
perasaan istimewa pada Miko, tapi karna Miko seakan tidak memiliki perasaan
apapun padanya ia jadi enggan mengajak Miko berbincang.
Hingga di malam akhir pekan
Widy menerima pesan singkat lewat sms oleh seseorang yang ternyata Miko, mereka
saling berbalas sms sampai larut malam.
Miko : Hy, aku miko... aku mendapat no. Mu
dari Agung mohon maaf bila mengganggu...
Widy : apa maksudmu dengan mengganggu?, aku
malah senang.
Miko : senang? Knp?
Widy : sdhlah lupakan. Menurutmu apakah di
sklh aku cuek padamu?
Miko : yah,,, kau sangat cuek padaku, bahkan
pada semua orang.
Widy : tapi kau juga bersikap cuek padaku...
Miko : itu wajar karna dri dlu sikapku
memang pendiam...
[...]
Widy
: apa alasanmu pindah sklh?
Miko : yah, menurutku lebih baik mati di tanah
kelahiran dari pada tempat lain..
Widy : mksudmu??
Miko : hanya bercanda, sdh dlu yah aku dah
ngantuk nih, lgian ini jga dah larut banget.
Widy : yah, baiklah aku jga sdh ingin
tidur... tpi jngn pernah bercanda dengan kematian lagi....
Miko : hmm, kau hanya belum tahu,,, kau
jangan bermimpi tentang ku yah... hehe :D, Good night...
Widy : kau yang jangan masuk kemimpiku...
G.night too.
Keesokan
harinya Widy melihat Miko kesekolah bersama seorang gadis, ia penasaran dengan
gadis itu, ia berpikir kalau gadis itu adalah pacarnya Miko. Setibanya Miko
didalam kelas Widy langsung bertanya.
“Hy!
Siapa gadis yang bersamamu tadi? Apakah dia pacarmu?.”
“Yang
tadi, dia itu Claudy, kakakku. Ada apa kau bertanya tentangnya?,” Ucap Miko
“Tidak
ada apa-apa aku hanya mengira... sudahlah,” Jawab Widy dengan malu-malu sambil
tersenyum.
“hey!
Ini pertama kalinya aku melihat mu tersenyum, kau sangat cantik dengan senyum
itu,” ungkap Miko sambil membalas senyum dari Widy.
Widy
hanya terdiam malu mendengar pernyataan dari Miko, dalam hati ia sangat bahagia
mendengar pujian itu, tapi karna gengsi ia tak mau mengungkapkan kegembiraannya
pada Miko. Ia hanya berbalik sambil membuka bukunya. Saat jam pelajaran dimulai
tidak seperti biasanya Widy terlihat tidak konsen, ia hanya tersenyum manis
sambil melamun. Widy tidak sadar
ternyata Miko memperhatikannya dengan senyum manis yang menghias wajah
cantiknya. Begitu pula disaat jam istirahat, Widy tidak lagi mengulang
pelajaran yang barusan diberikan. ia sedang gelisah, dalam hatinya ia begitu
berharap Miko mengajaknya berbincang, ia bisa saja memulai perbincangan tapi
sebagai perempuan ia mengurungkan niatnya untuk lebih dulu mengajak Miko
berbincang. Sementara itu Miko hanya duduk disamping Widy sambil membaca
novelnya.
Semenjak
percakapan pagi tadi mereka tak pernah lagi berbincang sampai sekolah selesai,
disaat Widy keluar dari kelas ia melihat Miko sangat gelisah, akhirnya ia
tersadar melihat wajah Miko yang pucat gelisah. “Seharian ini semenjak pagi
tadi aku tak pernah melihat Miko tersenyum, ada apa gerangan dengannya”
pikirnya dalam hati disaat Widy hendak menghampiri Miko, ia keduluan oleh
Claudy kakak Miko, akhirnya Widy hanya bisa melihat Miko pulang bersama
kakaknya.
Malam
harinya Widy masih tidak konsen dalam belajar, ia masih memikirkan alasan Miko
terlihat sangat khawatir di sekolah tadi. Tapi karna tak ingn berlarut-larut
dengan rasa penasarannya ia memutuskan tak ingin memikirkan hal itu lagi.
Disaat ia sedang serius-seriusnya belajar tiba=tiba handphonenya bergetar tanda
ada pesan singkat yang masuk, ia langsung memeriksanya ternyata pengirimnya adalah Miko. Tanpa basa-basi Widy
langsung membalas pesannya.
Miko : hy,,,,
Widy : ada apa??
Miko : tdk ada apa”, aku hanya ingin melihat
senyum manismu bEsok?
Widy : apa?
Miko : apanya yang apa?? Aku cuman mau lihat
senyum di wajahmu yang memang kau tujukan untukku....
[...]
Miko : aku harap kau belajar dengan giat,
agar masa depanmu pasti...
Widy : apa maksudmu dengan kata” itu? Seakan
kau sdh mau mati....
Miko : tak ada yg tahu kan kpn ajal
menjemput...
Widy : kenapa jadi terlalu serius akukan
cman bercanda...
Miko : bknkah kmu menyuruhku tdk bercanda
soal kematian... huft sdhlah ini sdh larut lebih baik kmu tdur sana... jangan
bermimpi tentangku yah... hehe, Good night!
Widy : tak usah melarangku,,, apa salahnya
kalau aku bermimpi tentangmu, itukan mimpiku sendiri,,hehe, G.night too....
Keesokan
harinya Widy terlambat masuk kekelas akibat ada urusan yang harus ia kerjakan
di ruang kurikulum. Saat menuju kekelasnya ia melihat Miko yang tidak memakai
seragam sekolah ditemani oleh Claudy. Dengan penasaran Widy langsung berlari
menghampiri Miko.
“hey,
ada apa? Kamu tidak masuk sekolah?,” Tanya Widy kepada Miko
“Apa ini
gadis bernama widy, ternyata memang cantik,” sela Claudy sambil melangkah
menjauhi Miko dan Widy.
“Maaf
sebelumnya aku tak pernah memberitahumu, sebenarnya otakku ini bermasalah.
Malam ini aku akan menjalani operasi otak di singapura dan kemungkinan
berhasilnya tidak lebih dari 10%. Apabila operasi tidak dilakukan malam ini
mungkin hidupku tinggal sepekan,” Ungkap Miko dengan terbata-bata.
“Mengapa
kau baru memberitahu ku sekarang?, jadi ini arti dari ucapanmu seelama ini,”
ucap Widy sambil menitihkan air mata.
“sekali
lagi maafkan aku, sebenarnya selama ini aku menyukaimu!, kau tak usah
menjawabnya karna aku sudah tahu tak mungkin kamu mau menerima seorang yang
hidupnya mungkin tinggal sepekan,” ucap Miko sambil tertawa kecil dengan air
mata terus mengalir.
“Bodoh!!,
aku juga menyukaimu sejak pertama kita berbincang. Dan selama ini senyum
diwajahku bisa ada karnamu. Kau adalah cinta pertamaku jadi akan sulit untuk
melupakan mu karna itu kembali lah untukku, aku akan menyimpan senyum
termanisku untukmu,” ucap Widy dengan nada keras dan masih terisak-isak.
“kamu
tahu?, kamu juga merupakan cinta pertamaku, dan sejak kecil aku selalu berharap
agar cinta pertamaku akan menjadi istriku kelak.”
Setelah
itu, dengan masih menangis Miko berangkat bersama Claudy untuk melakukan
operasi di singapura. Sementara itu Widy dengan penuh harap menunggu Miko untuk
kembali.
Setahun
lebih telah berlalu, Widy masih tetap bersabar dan berharap akan kembalinya
Miko. Sampai di suatu ketika Claudy datang menghampiri Widy di sekolah, mereka
berdua berbincang bersama tapi tak secuil pun membahas tentang Miko, Widy agak
ragu sebab apabila Miko telah mati dan ia membahasnya mungkin akan membuat
claudy menangis. Hingga seseorang menepuk pundaknya. Ternyata orang itu adalah
Agung, ia menyuruh Widy ke Ruang Tata Usaha sebab ia harus mengurus masalah
keuangan Pameran sebab Widy merupakan Bendahara Pameran. Widy pun langsung
beranjak keruang kurikulum, sementara Agung kembali kekelasnya.
Saat jam
istirahat barulah Widy menuju kekelas, dengan lesuh ia berjalan kekelasnya.
Namun ia terhenti didepan kelas saat ia melihat novel yang biasa dibaca oleh
Miko berada di bangku depan kelas, dengan perasaan tertekan dalam hati ia
lanjut masuk kekelas lalu langsung duduk di bangkunya, dan membuka buku
fisikanya, dengan serius membaca bukunya. Sampai-sampai ia mengabaikan seorang
lelaki yang duduk disampingnya. Dengan suara yang tak asing lelaki itu
meyapanya.
“Hy!
Seperti biasa kau serius dalam belajar,” uacap lelaki itu dengan suara yang tak
asing.
“Miko!
Mengapa kau terlalu lama membuat ku menunggu,” ucap widy sambil meneteskan air
mata bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar