Rabu, 08 Oktober 2014


TITIPAN TANGAN HEBAT

*ING's*


  SEKARANG AKU benar-benar ada. Menginjakkan kakiku disini dan berpijak di kota ini. aku mengitari sudut-sudut kota ini dengan pandanganku yang melekat sempurna. Tak ada satu titik pun dari kota ini yang terlewatkan oleh ku. Akulah gey, dengan tubuh ku yang kecil membawaku terbang sampai ke kota ini, dalam sejarah hidup ku aku baru pertama kali melihat kota ini. sebuah kota yang abstrak dan asing namun tak ku sangka aku berada di kota ini.
Aku menghabisi kota ini dengan pandanganku hingga titik terjauh yang kecil dapat ditangkap oleh inderaku, namun setelah itu aku tak dapat lagi melihat ujung dari kota ini. Pandanganku berhenti, terikat kuat oleh sesuatu yang ku lihat dari jarak beberapa meter di depanku.Aku tak dapat melihatnya dengan jelas, rasa penasaranku ini menggerakkan kakiku secara perlahan mendekatinya.
Sekarang ini, aku berada di hadapan tempat itu. Aneh ! dengan jarak sedekat ini pun aku tak tahu apa ini.tak pernah ku lihat hal seperti ini sebelumnya. Tanpa memerdulikan rasa penasaran ku ini, aku lalu melangkah dan terus melangkah tanpa suatu tujuan apapun, bagaimana mungkin ada tujuan, mengenali kota ini pun aku tak tahu. Aku hanya terus berjalan menyusuri jejak-jejak pandanganku yang sedari tadi tak pernah lepas dari bagian-bagian kecil kota ini. aku semakin terbawa arus kota ini ketika aku berjalan beberepa meter dari tempat  aneh itu, sesuatu tempat yang tidak begitu luas  ku jumpai lagi. Tempat ini seperti bekas ladang yang tak terawat dan gersang, seperti tak ada pemiliknya yang merawat lagi.Terlihat olehku sisa-sisa batang tanaman umbi-umbian serta dedaunan kering yang memenuhi ladang ini.setiap aku singgah di suatu tempat yang membuat batinku terikat, aku selalu penasaran dengan hal-hal itu. Namun, setiap hal itu membuatku penasaran dan tak bisa mengerti. Batinku “kota ini aneh, tak ada kehidupan yang lebih baik, semua membuatku penasaran tapi tak dapat ku pecahkan dengan pikiranku, siapakah yang tau kota ini, melihatnya pun baru, berada disini pun juga pertama kalinya untukku. Apakah telah ada yang mengerti dengan kota ini ? bagaikan kapal pecah di setiap sudutnya tak terawat, dan tak bertuan. Namun, satu hal yang melintas di pikiran ku tentang kota ini, aku prihatin dengan keadaan sekeliling yang tak jelas ini, begitupun dengan diriku.
Aku terus berjalan mengitari jejak kehidupan di kota ini. kehidupan yang tergambar dibenakku sangat berbeda dengan kehidupanku yang sebenarnya. Terus mengitari kota ini, pikiranku pun terus bergulat dengan hal-hal yang bertanda tanya dengan apa sebenarnya sulit di pahami dan sulit di mengerti untuk pemula sepertiku ini tapi, aku tak pernah berhenti berjalan menyusuri jejak-jejak kota ini sampai pada aku benar-benar lelah untuk berpikir.  Beberapa hal yang tak ku mengerti dan beberapa hal pula yang dapat ku maknai, begitulah perkataanku pada diriku sendiri. Aku seorang pemula untuk mengerti dan memaknai jejak ini. beberapa lama mengitari kota ini sendirian, tiba-tiba seseorang menepuk kecil pundakku dari belakang. Aku terkejut dan langsung sadar dari dunia khayalan ku tentang sebuah lukisan ini.
“ada apa sih, serius banget deh “ tanya kak Han
Dia adalah kakak sepupuku yang tujuh tahun ini telah menjadi seorang pelukis. Setiap lukisannya selalu ternilai indah di mataku dan selalu menyentuh setiap kali aku bertanya tentang makna lukisannya.
“iya kak, aku berusaha untuk memaknai lukisan ini” kataku yang terus memperhatikan lukisan.
“ kamu sudah dua jam loh di depan lukisan ini, sampai lukisan ini bosan liatin kamu juga. Heheh” ucapnya bercanda
“ihh, kakak apaan sih” ucapku
“jadi kamu sudah mengerti dengan lukisan ini ?” tanyanya
“ belum ‘jawabku singkat
Aku sangat simpatik dengan goresan-goresan tangan kak han yang selalu dapat menarik perhatianku ketika berkunjung dengan ayah ke galerinya. Aku juga pernah bermimpi untuk memiliki tangan sehebat tangan kak han yang membuat goresan penuh dengan makna dan hampir sama dengan kenyataannya. Semua itu pernah menyita waktu ku ketika aku benar-benar belajar membuat karya sedemikian. Namun tak bisa di pungkiri,  tangan ku bukanlah tangan kak han, Aku tak bisa melukis sehebat kak han
Tuhan memang menitipkan tangan yang berbeda. Tapi tuhan masih memberikan ku jiwa seni dengan terampil dalam memaknai lukisan kak han.
Lukisan yang ada di depan ku saat ini sangat membuatku penasaran. Aku tak dapat memaknai lukisan ini.
            “jadi, lukisan ini menggambarkan tentang kehidupan dahulu saat bumi pertiwi ini di perjuangkan”
            “gey, tempat ini adalah suatu tempat pertumpahan darah para pejuang kita” lanjut kak han
Ternyata itu adalah suatu hal yang mengikat rasa penasaran ku tadi
            “lalu, ada apa dengan ladang ini” tunjukku ke lukisan itu.
            “oh, gey, ladang tak terawat ini menjadi suatu simbol lelahnya rakyat pertiwi dahulu dalam menanam yang kemudian hasilnya harus diserahkan kepada manusia-manusia tak berbudi.

Sekarang aku mengerti. Terjawab sudah  rasa penasaranku terhadap lukisan ini. ternyata makna lukisan ini sangat mudah tetapi, goresan tangan kak han membuat maknanya sangat jauh tersembunyi. Kak han memang hebat, tuhan benar-benar menitipkan jari terampil yang dapat memuaskan batinku setiap melihat goresan lukisan yang hebat. Akulah gey si penikmat lukisan yang tak terampil melukis dan dialah han si pemilik tangan hebat pencipta lukisan.





PASUKAN GEMBALA KEMBAR
*a.nu'*

UDARA MALAM yang hangat terasa lembab dan menggantung di atas kota seperti selembar lap basah. Malam sudah sangat larut. Sudah lewat tengah malam, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah suara jangkrik diselingi suara burung hantu. Namun dua balita itu masih terjaga. Keduanya masih kokoh memainkan jejemari mereka. Hanya dua puluh jari-jari itu, dan keduanya tertawa terbahak-bahak. Sesekali mereka memegang perut yang terguncang karena virus tawa yang menyelimuti tubuh mereka. Entah, ada apa dengan jari-jari itu?
***
            Hamparan tanah lapang terpampang jauh ke depan batas pandangan yang bak takkan berakhir. Suara naungan puluhan sapi menyelinap masuk ke gendang telinga, berbunyi u panjang. Bagai bersorak bagi dua pemimpin mereka yang berdiri kokoh membacakan sebuah pidato.
            “Bagi saudara-saudaraku. Kita akan memulai penjelajahan kita.”,teriakan semangat laki-laki gendut, membuat tanah lapang itu berisik, berseru, mengobarkan semangat merah putih mereka. Laki-laki itu menutup pidato singkatnya dengan senyum simpul yang membuat sapi betina mengedipkan mata.
            “Penjelejahan itu apa?”,tanya sang adik, sembari memonyongkan bibir, tampak polos.
            “Jalan-jalan dan bermain-main.”bisik kakak, agar pasukannya tidak mendengar kebodohan sang adik.
            “Selu dong.”,ucap sang adik unjuk gigi, memperlihatkan giginya yang berkarat.
            “Tentu. Tapi bukan hanya sekedar seru, kita akan membuat keajaiban di dunia ini.”,jelas sang kakak, dengan semangat yang masih berkobar. Berharap pasukan sapinya bersiap menurunkan sikap semangat pantang menyerah miliknya.
            “Aku akan jadi pengawal setia Kak.Gege.”,gumam sang adik mengangkat tinju mungilnya. Sepertinya semangat sang jenderal bernama Gege itu, telah menurun kepada sang adik. Juga ke- pasukan-pasukannya.
            “Baik. Tapi Dede’ harus bisa jaga diri.”,nasehat Gege.
            “Ote.”,gumam adik mengangkat telunjuk sebagai tanda mereka mulai berjalan.
            Perjalanan yang tak kenal lelah itu, membawa mereka ke gerbang sebuah rumah mewah. Dilihatnya seekor kuncing dan tikus yang berkeliaran, saling berkejar-kejaran, hingga saling memukuli dengan wajan. Tentu kucing yang mengejar tikus. Sementara tikus yang terdesak mulai melempar berbagai benda untuk menghalangi langkah si kucing.
“Tunggu !”teriak Gege, menghentikan permainan kejar-kejaran si Kucing dan Tikus.
            “Belhenti !”,ikut Dede’ menghentikan kucing dan tikus itu.
            “Kalian memanggilku?”,tanya kucing dengan wajan di tangannya.
            “Siapa lagi?”,balas Gege’.
            “Ada apa?”,si Tikus pun ikut berucap.
            “Siapa nama kalian?”,tanya Dede’, penasaran.
            “Tom.”,ucap kucing
            “Jerry.”,jawab Tikus.
            “Mengapa kalian berlarian?”,tanya Gege’.
            “Dia mencuri makananku.”,jawab Tom.
            “Dia tak membiarkanku memakan keju, meski sedikitpun.”,rengek si Jerry.
            “Belbagi itu baik.”,gumam Dede’.
            “Meski kalian berbeda dan tidak mungkin bersatu, cobalah untuk hidup
berdampingan.”,nasehat Gege’ sembari mengambil keju itu, dan membaginya menjadi dua. Kucing dan tikus itu hanya bingung dan saling bertatapan. Kemudian tersenyum, dengan bermaksud setuju.
            “Kalian tahu tempat ini?”,tanya Dede’ memperlihatkan sebuah peta indah yang terukir di atas selembar kertas. Keduanya saling menggelengkan kepala, dan artinya pasukan Gege dan Dede’ itu harus melanjtukan perjalanan mereka lagi.
            Perjalanan mereka berlanjut. Peluh menetes, tapi tubuh mereka masih terbakar semangat. Kadang mereka bersenandung merdu, sembari mencari tempat yang tertera di atas selembar kertas yang digenggam kuat oleh jejemari mungilnya. Hingga masuk ke dalam laut. Daratan mungkin telah dijelajah oleh tapak kaki mereka. Tinggal lautan. Dalam dinginnya air, sejalan dengan aliran arus, tertimbun sebuah kehidupan. Disanakah tempatnya? Batin bergumam pelan. Menyelam menuju tiga rumah lucu yang berjejer. Rumah nanas, rumah wajah, dan rumah batu. Sang pemilik sedang bercengkrama di depan rumah, tepatnya di jalan setapak menuju tempat bernama KrustiKrab.
            “Kau jangan mengganguku, bodoh!”,teriak sang Gurita.
            “Ayo menangkap ubur !”,ajak si Spons kuning itu, sembari tersenyum memperlihatkan dua gigi depannya yang besar.
            “Aku ingin menghabiskan hari mingguku tanpa kalian berdua. Paham?”,amarah si Gurita itu membara. Meski dua teman di depannya masih kokoh dengan senyum masamnya yang terabaikan.
            “Padang ubur-ubur. Padang ubur-ubur.”,girang si Bintang laut merah muda, sembari berlarian mengelilingi sang Gurita, yang bagai akan meledak sekarang juga.
            “Permisi.”,sapa Gege.
            “Kalian sedang apa?”,tanya Dede’.
            “Orang bodoh itu menggangguku.”,kesal Gurita.
            “Berburu ubur-ubur.”,ucap si spons kuning, dengan jaring ubur-ubur yang tampak berkilauan dalam genggaman tangan kuningnya.
            “Nama kalian siapa?”,tanya Gege.
            “SpongeBob.”,jawab si spons kuning.
            “Squidward.”,tutur si gurita dengan wajah yang masih kusut.
            “Namaku siapa?”,gumam sang bintang laut merah muda, sembari menggaruk-garuk kepala runcingnya.
            “Patrick! Namamu, Patrick.”,bisik SpongeBob.
            “Oh, ya. Patrick. Namaku Patrick.”,ucap Patrick, dengan polosnya. “Patrick itu siapa? Siapa Patrick?”,lanjutnya. Tingkah bodoh Patrick, semakin membuat Squidward mendidih. Gege hanya tertawa, dan Dede’ mengikuti kebodohannya.
            “Untuk apa kalian kesini?”,tanya Squidward.
            “Berburu ubur-ubur?”,lanjut SpongeBob.
            “Diam, kau bodoh!”,teriak Squidward.
            “Kami mencari tempat ini.”,jawab Gege memperlihatkan peta penjelajahan mereka. Dede’ tak berkomentar. Dia sibuk berburu ubur-ubur dengan si Bintang laut merah muda itu. Tawa mereka lepas di dalam laut yang dalam itu, sementara Squidward masih kesal karena minggunya berakhir tanpa istirahat baginya.
            “Kami tidak tahu.”,jawab Squidward.
            “Mau berburu ubur-ubur?”tanya SpongeBob,ramah.
            “Tidak. Kami harus mencari tempat ini.”,tutur Gege’. “Terima kasih, dan lain kali, cobalah akur. Orang pintar takkan ada, tanpa orang bodoh, Squidward.”,lanjut Gege, sembari menarik tangan adiknya, Dede’ yang sibuk bermain dengan ubur-ubur dan juga Patrick.
            “Cobalah ke Konohagakure. Mungkin tempat itu ada disana.”,teriak SpongeBob, setelah melihat langkah putus asa pasukan gembala kembar itu. “Telima kasih.”,teriak Dede’.
            “Tempat apa itu?”,tanya Squidward penasaran dengan nama Konohagakure itu.
            “Aku mengatakan sesuatu?
   Mungkinkah ladang ubur-ubur?”,balas SpongeBob. “Ayo berburu ubur-ubur.”,ajak SpongeBob lagi, dan Squidward menyesal menanyakan kata itu.
            Langkah kaki pasukan gembala kembar berlanjut. Tapak kakinya meninggalkan bekas di atas hamparan pasir luas, kota Konohagakure. Tempat terakhir dari penjelajahannya mencari tempat yang terukir dalam peta itu.
            “Rasengang.”,teriak anak laki-laki berambut kuning itu sembari memukul perut lawannya.
            “Katon: Gokakyu no jutsu.”,balas anak laki-laki tampan berambut hitam itu, sembari menghindar, lalu melempar sebuah suriken.
            “Hentikan!”teriak Dede’ menghentikan perkelahian mereka.
            “Siapa kalian?”,tanya laki-laki berambut kuning.
            “Aku Dede’, adiknya kak Gege.”,ucap Dede’ polos.
            “Mengapa kalian berkelahi?”,tanya Gege’.
            “Aku ingin menghentikannya untuk pergi.”,jawab laki-laki berambut kuning, sembari sesekali air matanya jatuh.
            “Dan aku ingin dia mati, lalu aku mendapatkan mata itu.”,lanjut laki-laki berambut hitam itu, dengan dinginnya. Tak sekalipun dia menolehkan pandangan pada laki-laki berambut kuning yang menatapnya dengan mata sayu.
            “Sasuke, hentikan ucapanmu.”,sela laki-laki berambut kuning itu, sembari mengepal tinjunya, yang juga ia gunakan menghapus air matanya.
            “Jangan bodoh, Naruto. Kau juga sangat membenciku, bukan?”,ungkap laki-laki yang dipanggil Sasuke itu. “Bunuh aku sekarang juga!”,lanjutnya.
            “Ada apa dengan kalian ini?”,sela Gege. “Kalian ini teman. Mengapa harus seperti ini?”,lanjutnya, prihatin.
            “Bukan begini calanya mengungkapkan kasih sayang.”,potong Dede’. “Kak. Gege selalu melindungiku. Itulah kasih sayang.”,lanjut Dede’. Kalimat yang terlontar dari mulut polos milik Dede’ ini, menyerang batin Naruto ataupun Sasuke. Dengan langkah pelan, Sasuke mendekati Naruto, kemudian memeluknya. Cinta antara keduanya meluap, yang sedari tertimbun dibalik perkelahian mereka. Hadirnya Gege dan Dede’, memiliki makna bagi dua teman itu.
            “Hentikan sinetron kalian!”,canda Gege’.
            “Kalian tahu tempat ini?”,lanjut Dede’.
            “Lembah kasih sayang?”,ucap Naruto, yang membaca tulisan dari kertas dalam genggaman Dede’. Lembah kasih sayang. Tempat yang dicari oleh pasukan gembala kembar itu. Namun, yang tertera di atas selembar kertas itu bukanlah peta. Tetapi, hurup yang berurutkan LEMBAH KASIH SAYANG.
            “Iya.”,senyum kakak beradik itu, memperlihatkan gigi susu mereka yang mulai berkarat.
            “Ini bukan lembah kasih sayang. Tapi lembah kematian.”,jelas Sasuke menunjuk tempat mereka berpijak sekarang. “Lembah kasih sayang itu ada disini.”,lanjutnya merangkul Naruto, kemudian menunjuk dadanya. Bukan dada. Tetapi sesuatu yang terdapat dalam rongga dada itu. Apalagi, kalau bukan hati, atau jantung. Tempat berdiamnya lembah kasih sayang yang dicari pasukan gembala kembar itu. Kedua teman, dan pasukan gembala kembar itu tertawa. Emosi, kebencian, dan cinta yang tulus bernama kasih sayang itu meleleh diantaranya. Namun, apakah lembah kasih sayang yang sebenarnya telah di temukan oleh mereka?
***
            “Apa yang kalian lakukan?”,rasa penasaranku berbuah lebat, ketika tiga jam berlalu, dan dua balita kembarku itu masih terbahak.
            “Kakak tidak usah tahu!”,teriak si kakak.
            “Lahasia.”,ikut si bungsu.
            “Lahasia,lahasia. Rahasia
bodoh.”,cibirku mendengar adik bungsuku yang cadel. Namun sebenarnya bukan karena itu. Tetapi karena mereka menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku kesal karenanya. “Ya, sudah.”,lanjutku.
“Di lembah kasih sayang itu ada dua wanita cantik.”,tutur Gege menjelaskan pada Dede’ tentang sebuah lembah kasih sayang.
“ Lembah kasih sayang? Dasar!”,batinku. Kusadar telingaku telah berada diantara kisah rekayasa kedua adikku.
“Mengapa harus sapi?”,tanya Dede
“Karena kau takut kuda. Jadi kita tak mungkin membuat pasukan berkuda.”
“Oh, iya. Aku lupa. Lalu Lembah kasih sayangnya sepelti apa?”
“Tanah lapang yang luas. Di langit-langitnya dipenuhi laying-layang. Tanahnya juga subur. Di sekeliling lapangan tumbuh pohon roti dan lollipop. Sapi-sapi kita gendut karena memakan pohon-pohon roti itu.”
“Sapi makan loti?”
“Jadi kau ingin makan rumput?”
“Tidak. tidak. Ote. Sapinya yang makan loti.”,gumam si bungu jijik, membayangkan dirinya makan rumput.
“Anak-anak nakal itu pasti mengkhayal.”,batinku, tertawa.
Tiga jam selanjutnya berlalu, bagai satu menit. Suara riuh milik adik-adikku mereda. Kucoba melihat mereka, dan keduanya telentang dengan lelap di depan televisi dan juga laptop yang menyala. Kuperhatikan sekeliling mereka. Berantakan. Artinya sebuah pekerjaan untukku. Itulah sulitnya jadi sulung untuk dua balita kembar yang nakal. Jejemari, dan wajah mereka juga berantakan dipenuhi spidol dan krayon. Ada gambar aneka kartun. Dari tom and jerry, SpongeBob, dan juga kartun yang juga favoritku, yaitu Naruto. Lebih tepatnya aku yang memperkenalkan kartun itu pada dua malaikat kecilku.
Wajah polos disaat mereka terjaga juga terlelap membuatku merasa iri. Perasaan damai tanpa tekanan dimilikinya, sungguh membuatku juga menginginkannya, ketimbang bebanku tumbuh dewasa. Menatap jalanku dan juga jalan mereka yang berbeda, membuat bulu kudukku berdiri. Cerita orang-orang dewasa tentang dulu dan sekarang yang berbeda, membuatku takut untuk mengangkat kaki. Dunia yang kuinjak dulu dan sekarang tak lagi sama. Kadang aku berpikir apakah ini masih dunia yang sama? Orang yang berlalu-lalang pun berbeda. Hidupku kupertaruhkan dengan beberapa pilihan, yang entah?
“Dede’ tidak bodoh. Orang dewasa yang bodoh itu menganggap Dede’ bodoh.”,ucap Dede’. Dia mengigau, sungguh lucu. Tak kebayang bagaimana mereka saat tumbuh dewasa?
“Dua wanita cantik yang ada di lembah kasih sayang itu, Ibu dan Kakak.”






ILUSI SANG PEMBISIK
*Fz_kyah*

DESIRAN HATI sang malaikat tak bersayap bak sebuah melodi dalam kehidupan yang memberikan beribu warna keajaiban pada kehidupan seseorang yang tak termimpikan sebelumnya. Seseorang yang senantiasa menjalankan seluruh kehidupannya dengan nafas kasih sayang, seseorang yang senantiasa berjuang mewujudkan keinginannya dengan tingkah luar biasa, seseorang yang senantiasa selalu bertanya pada dirinya sendiri dengan mulut yang manis. “akankah kehidupan ini berakhir dengan bahagia?” , “akankah semua ilmu yang dicari berguna nantinya?”, “akankah kalian mengerti tentang kasih sayang yang ku pertunjukkan?”, “akankah kau mengerti tentangku?”. Semua itu adalah tantangan dalam hidupnya yang harus diselesaikan sebelum ia melanjutkan ke tantangan selanjutnya.
            Hembusan udara dingin dengan awan yang sedikit melayu telah menjadi bukti awal perjalanannya  di suatu daerah yang dipenuhi segelintir penghuni dengan otak segudang. Daerah pusat pelajar itu menjadi tempatnya menikmati masa remaja. Bergelut dengan buku adalah makanan sehari-harinya. Ia yang dikenal sebagai sosok yang sangat ramah dengan hati yang lembut menjadikannya disenangi oleh teman-temannya.
Tak sengaja aku mendengar sebuah suara,”Trie yang baik itu?”, “iya, Trie!”. Dari situlah aku mulai melakukan penyelidikan,ada apa dengan Trie yang terkenal dengan sosoknya yang ramah dan lembut, yang telah menjadi buah bibir di daerah ini? Tanpa ku sadari, ku bertemu dengan sosok misterus,”Maaf, Anda kenal Trie?”tanyanya.
Seolah mengenalnya, ku beranikan jawab “iya”.
”Bisakah kau mngantarkan ku kepadanya?”
“Maaf, Trie sedang pergi.”
Tanpa basa basi, sosok misterius itu pun meninggalkan tempat ini. Semangatku untuk mengenal Trie semakin memuncak. “Trie, Trie, Trie.siapa dia?”batinku. Dalam perjalanan ke kampus, ku melihat segerombolan orang berkumpul membentuk sebuah lingkaran.
“Disana ada apa?”tanyaku pada salah satu teman yang bersamaku.
“Dengar-dengar ada seorang mahasiswa yang sangat baik. Ia setiap minggunya memberikan makanan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.”
“Siapa?”
“Kalau tidak salah namanya Trie.”katanya
“Hah? Trie?”jawabku dengan terkejut.
“Kenapa? Kau mengenalnya?”tanyanya.
“Tidak, aku hanya penasaran. Siapa dia sebenarnya?”
Aku pun semakin penasaran dan mulai mendekatinya. Sejenak aku terdiam seolah takut untuk mendekat, takut akan sosok yang penuh tanda tanya ini. Tapi, untuk apa aku takut dengan seseorang yang tak ku kenal? “Ah, kenapa harus takut?”batinku.
Setelah mendekat, mataku melotot melihat sosok yang tak asing bagiku. Sosok yang selalu bersamaku saat berada pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Trie yang selama ini ingin ku kenal ternyata adalah teman lamaku.
“Hei, kamu..?”sapanya.
“Iya, aku. Kamu Tasya?”tanyaku.
“Tak salah lagi,hanya kau yang selalu memanggilku dengan nama Tasya.”
Dugaan yang selama ini ku hayalkan ternyata jauh dari kebenaran. Trie Anastasya adalah teman lamaku yang memang sangat baik dan sangat pintar. Ku tak tau harus bagaimana lagi setelah mengetahui kalau Trie itu adalah Tasya. Apa lagi yang tidak ku ketahui tentangnya? Aku sudah tau semua tingkah laku Trie, sampai pada keluarganya yang juga sangat baik kepadaku.
Namun, setelah kembali ke rumah sewaan, aku kembali teringat akan sosok misterius yang menanyakan tentang Trie itu. Seorang laki-laki yang gagah,tampan dan berwibawa  mengenakan pakaian seragam polri. Yah, sosok laki-laki idaman Trie semasa sekolah bersamanya. Tapi, untuk apa ia mencari Trie?
Aku tak ingin menyampaikan hal ini kepada Trie. Aku takut akan sosok misterius itu akan menjadi pilihan hati Trie. Aku takut kehilangan Trie yang dulu pernah singgah dihatiku. Trie yang selalu mengutamakan pendidikannya tak sadar akan cinta yang ku pendam. Namun,Trie selalu menyebarkan kasih sayang kepada semua orang disekelilingnya.
Sosok misterius itu kembali datang. Ia kemudian bertemu dengan Trie. Namun yang kulihat, Trie sangat heran dan terkejut melihat sosok yang ia impikan dari dulu tegak berdiri di depannya. Tapi, apakah itu hanya perasaan cemburu yang bergema dihatiku?
Sosok misterius itu kulihat tengah membawa sebuah kunci dari tali. “Kunci?” tanyaku pada Trie. “iya, dia telah menemukan kunci dari tali yang selama ini aku cari. Aku juga pernah mendapat bisikan dari seorang laki-laki tua bahwa akan ada seseorang yang akan memberikanmu kunci dari tali, ia adalah malaikat tak bersayap.”
“kamu serius?”tanyaku dengan nada keras tak terkontrol.
“iya, maafkan aku, aku tau maksudmu. Maaf!”gumamnya.
Aku pun terpuruk dengan kesedihan dalam beberapa lama. Namun, aku sadar akan takdir illahi, aku akan berusaha melupakannya dan selalu mengenangnya tanpa ada rasa benci. Tapi, akankah Trie bahagia dengan pilihannya? Akankah semua ilmu yang dimilikinya akan berguna? Akankah malaikat tak bersayap mengerti tentang Trie?




MIMPI DINDA
*Cha*
SAAT ITU AKU, Dinda siswi XI MIA 2, SMA Negri 1 Watansoppeng. Sedang duduk disebuah bangku dalam ruang putih yang kosong, anehnya aku seakan melihat diriku sendiri. waktu itu aku merasa pikiranku sedang kosong, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara bel masuk sekolah dan serentak ruang putih yang tadinya hanya ada diriku di dalamnya tiba-tiba langsung terisi penuh dan berubah menjadi ruang kelas ku sendiri. Saat itu aku berpikir “Apakah tadi hanya halusinasi?,” ucapku dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalaku. Saat masih bingung-bingungnya aku dipanggil oleh veby yang duduk di belakangku, akupun langsung berbalik.
“Ada apa veb?,” tanyaku kepada veby.
“mengapa kamu memakai seragam pramuka,? inikan masih hari rabu. Kan  kamu juga bukan anggota pramuka?,” jawab veby sambil menahan tawanya.
Akupun melihat seragam yang kupakai ternyata benar aku memakai seragam pramuka. Seisi kelas pun menertawai ku dengan rasa malu aku pergi ke UKS. Di UKS aku membuka seragam pramuka ku, setelah kubuka ternyata baju batik berada dibalik  baju pramukaku. “Bodohnya aku! Bagaimana bisa aku memakai dua buah seragam sekaligus?,” ucap ku dengan nada yang agak jengkel sambil memukul-mukul kepalaku sendiri. Tiba-tiba muncul suara dari belakang.
“Dinda, apa yang kau lakukan disini?,” ucap sesorang dibelakangku, yang spontan membuatku kaget, sebab aku pikir hanya ada aku di ruang UKS. Dengan gemetar aku membalikkan badan ku, dan ternyata orang itu adalah Riska, seorang kakak kelas yang manis dan juga merupakan pacar kakakku.
“oh, ternyata kakak!, kirain siapa? Aku gak lagi ngapa-ngapain kok kak!. Kakak sendiri ngapain disini?,” jawabku dengan lega.
“Aku lagi cari obat galau,” jawabnya dengan nada yang begitu datar.
“Ah, kakak bisa aja!, kalau begitu aku masuk duluan yah kak!” ucap ku dengan sedikit tawa.
Setelah itu aku berlari kecil menuju kelasku, karna tidak hati-hati aku menabrak seseorang yang keluar secara tidak terduga dari sebuah kelas. Aku pun langsung tersungkur dilantai begitu juga dengan orang yang kutabrak itu. Dengan cepat aku  langsung berdiri dan membantu oraang itu berdiri, betapa kagetnya aku ternyata orang itu adalah kak Riska.
“maaf kak!,” ucap ku dengan suara terbata-bata.
“oh, kamu din!, gak apa-apa kok,” ucap kak Riska dengan sedikit senyum.
“kok, kakak ada disini sih?,” tanya ku dengan sedikit rasa penasaran bercampur takut.
“lah!, inikan memang kelas kakak, kamu ini gimana sih?,” ucap kak Riska. Yang makin membuatku takut.
“bukannya kakak tadi lagi di UKS?,” tanyaku lagi sambil keringat mulai membasahi wajahku.
“UKS?, kapan kakak ke UKS?, perasaan kakak gak pernah ke UKS deh din!. Udah kamu masuk kelas gih!,” jawab kak Riska dengan muka yang terlihat bingung.
Aku pun menuju kelas ku dengan perasaan takut dan berusaha melupakan kejadian tadi. Setibanya di kelas, ternyata telah ada guru yang mengajar, akupun mengetuk pintu.
“assalamu alaikum pak!,” ucap ku dengan sopan.
“walaikum salam, Dinda dari mana saja kamu? Ini sudah jam berapa?,” ucap pak guru dengan nada yang agak keras.
“Maaf pak, tadi saya ke UKS, lagian cuman telat beberapa menit kok pak,” jawabku dengan gugup.
“kamu kesekolahnya jam berapa? Lihat ini sudah jam berapa?” tanya pak guru dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya.
Akupun berbalik melihat jam dinding dan ternyata jam menunjukkan pukul 01:45 siang. Betapa kagetnya aku, pada saat itu pula bel pulang sekolah berbunyi. Akhirnya aku hanya bisa meminta maaf kepada pak guru dan setelahnya akupun berjalan pulang.
Di perjalanan pulang aku melihat anak perempuan berbaju merah menembus dinding, betapa kagetnya aku karna kejadian itu. Akupun mulai mempercepat langkah ku, sampai di persimpangan aku melihat seorang anak laki-laki memakai jaket hitam sedang memakan seekor anjing. Saat aku meneriakinya, dia langsung berbalik dan menatapku. Aku hanya bisa terdiam seperti batu. Anak laki-laki itupun berdiri, spontan membuat jantungku berpacu begitu cepat dan keringat mengalir begitu deras. Anak laki-laki itupun lantas langsung terbang kelangit, yang membuatku semakin takut. Akhirnya aku berlari pulang kerumah. Aku langsung masuk kekamar dan menguncinya dari dalam.
Aku berusaha menenangkan diri didalam kamarku sendirian, tapi ada seorang yang mengetok jendela kamarku dan ternyata itu adalah anak laki-laki tadi. Aku ketakutan dan tak bisa bersuara, saat aku berbalik, anak perempuan yang tadi muncul menembus pintu kamar ku dan membuatku merinding, tiba-tiba aku terbangun dan tersadar bahwa ternyata semua itu adalah mimpi yang mengerikan.

Sebelum aku tidur kembali, aku membaca doa sebelum tidur. Dan keesokannya aku bangun dengan wajah tersenyum karna mimpi ku semalam begitu indah.



PUTRI TANPA MAHKOTA
*nyong*
MASIH TERLIHAT jelas sisa air mata di pipi April. Yah benar, April baru saja habis menangis seperti biasanya. Hari-harinya hampir dipenuhi dengan perasaan resah, dan entah apa yang ada dibenaknya yang membebani hatinya. Padahal, hampir seluruh keinginannya telah terpenuhi, dari uang jajan sampai seluruh kebutuhannya selalu tercukupi, kasih sayang semua anggota keluarga pun tercurah padanya. Mungkin karena April anak bungsu jadi wajarlah jika sifat manja kini menjadi karakternya sampai saat ini..
            Sekarang  dia sudah duduk di bangku SMA kelas 2, tapi dari kecil sampai sekarang  tidak ada yang berubah darinya. Dia masih saja seperti seorang putri yang mana keinginannya harus dituruti dan barang barangnya sama sekali tidak bisa diganggu, Seperti siang ini, saat ibu dan kakak April yang bernama Indah sedang memasak di dapur untuk menyiapkan menu makan siang, dari balik kamar terdengar suara April yang sedang asyik melantunkan lagu Korea kesukaannya, sambil sesekali April mengeraskan suara televisi untuk mendengarkan kembali lirik lagu Korea yang sedang disenandungkannya. Tiba tiba April teringat kalau besok ada ulangan harian, diapun segera bergegas menghampiri buku buku pelajarannya, segera diambilnya buku mata pelajaran bahan ulangan besok untuk dia pelajari. April memang anak yang rajin belajar dia juga berprestasi disekolah, walaupun dia seorang yang manja tapi untuk urusan belajar dia tidak pernah bermalas malasan karna dia punya cita cita ingin menjadi dokter seperti harapan ibu dan kakak-kakaknya.
            ngeeeeeeeekkk!!!,,,suara pintu kamar yang sedang terbuka, April pun sontak kaget, ternyata  yang berdiri dipintu adalah ibu,,''Huuuhh ngagetin aja bu, hampir aja jantungku copot'' kata  April, sambil tersenyum ibu pun menjawab, "ayo makan dulu, keburu dingin lho, entar ngambek lagi'',, tampak April tetap serius menatap buku pelajarannya, "entar dulu bu, lagi nanggung nih '' jawabnya dengan muka ketus,,''ya udah kalo gitu, tapi jangan kelamaan ya'' kata ibu sambil meninggalkan April didalam kamar,.selang 20 menit kemudian April baru beranjak dari tempatnya menuju meja makan, walaupun makan siang bersama anggota keluarga telah dilewatkan oleh April tapi dia tetap lahap menghabiskan makan siangnya untuk kembali belajar.   

Tak terasa hari sudah hampir sore, April bergegas merapikan kembali buku bukunya yang berantakan, belajar hari ini sudah cukup baginya untuk bekal bertarung besok,,diapun menghabiskan waktu luangnya menonton TV apalagi kalau bukan film Korea,,ditemani keponakannya yang masih berumur dua tahun yang sedang bermain juga didekatnya,,saking seriusnya menonton April tidak menyadari kalau keponakan yang tadinya bermain didekatnya kini sudah berada di kamar sendirian untuk mencari permainan baru, benar saja!! buku-buku pelajaran April yang kini menjadi sasaran mainnya, diambilnya buku April dan dicoretinya dengan pulpen,menyadari siponakan sudah tidak ditempat April pun bergegas masuk kamar untuk mencari tahu apa yang diperbuat makhluk kecil itu  dan betapa kagetnya dia menyaksikan bukunya kini sudah tak berbentuk lagi,,spontan April langsung berteriak sambil menangis ''ibuuuuuuuuuu.....kakaaaaaaaaakkk'' ,,mendengar teriakan April ibu dan Indah sontak berlari mendekati April,  ''ada apa sih? teriak-teriak '' kata ibu,,''liat nih  bu, gimana aku ngga teriak kalau buku aku sekarang modelnya kayak gini?'' dengan muka cemberut Indah pun berkata ''oh kirain apaan, baru aja kami puji kamu dek, kok tumben tumbennya kamu ngga ada suara hari ini, eh ternyata kami salah''..dengan lantang April menjawab sambil tetap menangis,''kakak tuh ngga bisa jagain anaknya sendiri jadi nya buku aku deh yang jadi sasaran, pokoknya aku ngga mau tau kakak harus bertanggung jawab''..''tanggung jawab gimana maksudmu''? kata indah bingung,."aku mau kakak menulis kembali catatanku untuk dipindahkan dibuku yang baru, titik'' kata April tegas,,alisnya berkerut mendengar pernyataan adiknya itu "huuuffftt dapat kerjaan baru nih kakak? ngga ada tawaran lain yah? masa sih kakak harus berhadapan dengan buku lagi ? gumam Indah,,tidak ingin perdebatan anaknya semakin berlarut-larut, ibu pun langsung menengahkan keduanya ''udah-udah ngga usah bertengkar, April, bisa ngga ada masalah diomongin baik-baik ngga usah pakai teriak-teriak segala apa kamu ngga malu setiap hari didengar tetangga apalagi kamu itu sudah bukan anak kecil lagi loh, kamu juga Indah baiknya kamu mengalah aja dari pada adik kamu menangis kayak gini, kamu tahu kan kalau lawan si April ngga ada habisnya mendingan kamu yang ngalah deh kan kamu yang lebih tua''..mendengar ibunya yang sudah marah indah pun mengalah ''iya iya deh bu kalau gitu’’,,dengan ketus indah pun menerima hukuman yang diberikan adiknya itu, melihat kakaknya akhirnya mengalah juga sambil tersenyum karna keinginannya dikabulkan April pun berceloteh menggoda kakaknya ''kak dirumah ini akulah sang putrinya walaupun tanpa mahkota, jadi ngalah aja deh kak,,kan sayang adik, hehehe...tapi sebenarnya aku juga ngga mau seperti ini  terus, setiap hari galak dan bikin repotin orang rumah, aku mau berubah kok, doakan ya kak semoga kelak aku bisa menjadi putri yang bijak dan ngga manja lagi (sambil mengusap sisa airmata yang masih menempel di pipinya)” ibu dan kakak april serentak menjawab..amin,,mereka terharu mendengar April ngomong gseperti itu, merekapun saling berpelukan dengan gemasnya indah menciumi adiknya,memeluknya dan berharap kelak adik kesayangannya itu bisa  berubah jadi lebih baik dan menjadi kebanggaan keluarga.


PERAYU SEJATI PECINTA BURUK
*a.nur*
“AWAL DARI RASA cinta akan tetap cinta jika pintar mengolah rasa cinta itu agar tetap cinta.”
            Entah apa yang ada di fikiran Dandy yang selalu merangkai kata-kata rayuan yang hampir setiap hari ia lontarkan dari mulutnya.
            Bel berbunyi, pertanda siswa harus masuk ke kelas. Dandy yang bersekolah disalah satu SMA favorit di Kabupaten Soppeng, yaitu SMA Negeri 1 Watansoppeng. Ia sudah kelas XI dan mengambil peminatan Matematika dan Ilmu Alam 2. Dandy yang dikenal tampan, ramah, rajin, dan pintar. Banyak siswa perempuan yang suka dengannya karena kepribadiannya itu. Tetapi, tak seorang pun yang dapat meluluhkan hati Dandy.
            Malam ketika Dandy sibuk membalas chat dengan teman cewek di jejaring sosial facebook walau hanya teman sekelas. Tiba-tiba kakak Dandy menghampirinya dan berkata “Gak bosan tuh ngejomblo mulu? Tiap hari loe sibuk balas chat teman cewek loe. Haha kapan kamu punya pacar?” tanya Beny dengan tertawa. “Gak usah dipikirin itu dulu kak, aku ini kan masih muda, yaa mungkin di luar sana banyak yang mau sama aku” jawab Dandy
            Beny meninggalkan adiknya sambil tertawa.
            Sudah pukul 07.05. 10 menit lagi bel masuk berbunyi. Rifky sahabat Dandy yang sudah lama menunggu. Karena tidak biasanya Dandy terlambat ke sekolah. Apalagi rumah Dandy dekat dari sekolah. Tak lama kemudian, tepat pukul 07.15, Dandy tiba di sekolah dan bel pun berbunyi.
            Setelah mengikuti 4 jam pelajaran dan 2 jam di antaranya adalah bidang studi matematika wajib. Rifky mengajak Dandy untuk makan di kantin yang biasa ia selalu makan. Di tengah perjalanan Rifky bertemu dengan adek kelas yang bernama Kirana dan menyapa Rifky “Hai kak..”. Rifky menjawab “Hai juga dek. Mau kemana?”. “Aku mau ke perpustakaan untuk mencari buku dan mengerjakan tugas. Aku duluan ya kak”, jawab Kirana lalu pergi. Dandy dan Rifky juga pergi ke kantin. Selesainya mereka makan, Dandy bertanya kepada Rifky “Kamu kenal sama cewek yang tadi?”. Iya aku kenal, emangnya kenapa?”, tanya Rifky balik. “Dia cantik, kenalin donk”, jawab Dandy. “Emm, giliran cewek mau aja.. iya deh aku kenalin, nanti aku kasih nomor handphonenya.
            Keesokan harinya, Dandy dan Rifky berjalan-jalan mengelilingi sekolah, tiba-tiba datang seorang cewek yang kebetulan teman Kirana dan menghampiri Dandy lalu berkata, “Hai kak, aku punya teman yang mau kenalan sama kakak, tunggu sebentar yaa..”. Beberapa menit kemudian Kirana datang dan berkata, “Kenalkan nama aku Kirana, kalau kakak siapa?”. “Aku Dandy, kamu dari kelas mana?” jawab Dandy. “Aku dari kelas X MIA 1”, jawab Kirana. Dandy yang selalu menatap wajah Kirana yang begitu cantik dan membuat Kirana tersipu malu. Beberapa saat kemudian bel berbunyi pertanda waktu sudah pulang.
             Sesampainya Dandy di rumah, sifat Dandy berubah yang semula ia tidak pernah serius dalam belajar, kini ia tekun belajar dan ia pun jarang membuka akun media sosialnya. Hari terus berlalu, ia terus memikirkan wajah Kirana. Suatu hari, Danndy mendapatkan nomor handphone Kirana dan ia mencoba menelfon Kirana.
            Dandy : halo, ini dengan Kirana ya?
            Kirana : iya, ini dengan siapa?
            Dandy : aku Dandy, aku mendapat nomormu lewat Rifky, gak apa kan?
            Kirana : gak kok
            Dandy : oiya, tolong disave yah!
            Kirana : iya.
            ……………
            Hari terus berganti, perkenalan mereka pun semakin berlanjut dan Dandy pun mulai menyukai Kirana. Mereka saling suka dan akhirnya mereka menjalin suatu hubungan yang dinamakan pacaran.
            Minggu pertama Dandy pacaran rasanya masih cinta, minggu kedua pun rasanya masih cinta, minggu ketiga rasanya tetap cinta, dan tepat satu bulan mereka pacaran rasa cinta itu mulai hilang.
            “Kenapa sih akhir-akhir ini kamu mulai cuek sama aku, aku salah apa sama kamu?” tanya Kirana dengan wajah cemberut. “Gak kok..” jawab Dandy dengan cuek. “Terus, kenapa sifatmu berubah sama aku?”. Dandy hanya menatap wajah Kirana kemudian pergi dengan wajah yang kesal.
Sepulang sekolah, Dandy yang biasa selalu menelfon Kirana dan terkadang ia mengutarakan kata-kata rayuan kepada Kirana, kini handphonenya tidak pernah diaktifkan. Ia pun mulai tidak menghubungi Kirana. Hidup Dandy yang semula sedih, lalu bahagia dan kembali sedih. Ia menganggap bahwa punya pacar ataupun tidak hidupnya selalu sama, tidak berubah.
Beberapa hari kemudian, Dandy mulai kesal dengan sifat Kirana yang selalu ingin perhatiin, dimanjain, dan harus menuruti apa yang dia inginkan. Dandy tidak suka dengan dengan tipe cewek yang seperti itu. Itu membuatnya merasa terganggu. Dandy memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kirana dan kembali menjomblo seperti dulu.
Masalah percintaan Dandy memang tidak sesuai yang dia inginkan. Terkadang, ia selalu merangkai kata-lata rayuan atau kalimat dalam bahasa cinta tetapi itu tidak sesuai dengan kisah cinta yang dialami Dandy.ia harus menerima nasib cintanya seperti sekarang ini.
“Awal dari rasa cinta akan tetap cinta jika pintar mengolah rasa cinta itu agar tetap cinta.”


SEPTEMBER TAK PERNAH CERIA
*mun*
MENGGELEGAR DAN MENGGUNCANG Soppeng. Tubuh-tubuh terpelanting, bersimbahan serpihan kaca yang bertaburan. Merah kental sontak menyaput hitam aspal jalanan. Beribu wajah mendadak berubah pias, berbalut ketakutan. Asap putih pekat membumbung. Pelan, tapi semakin meninggi. Suasana menjadi kacau-balau dan mengerikan, berbaur air mata yang bercucuran membasuh muka.Bukan, bukan bening! Merah, karena tercampur darah.
Di mana-mana hanya terdengar erangan, rintihan dan ratapan. Tangis semakin menjadi-jadi, diselingi jerit kesakitan. Berteriak, namun tiada harapan. Tampak jalanan semakin merah dengan potongan tubuh manusia yang berserakan. Banyak! Tercerai-berai di bawah kendaraan, pepohonan dan bangunan berhampiran.  Api masih berkobar panas, serakah menjilat sisa bangunan. Percik darah juga semakin banyak, menggumpal di tepi trotoar dan mewarnai rontok dedaunan. Bagaikan menjadi saksi akan hilangnya rasa kemanusiaan.
Perlahan waktu beringsut. Tuding sana-sini berhamburan. Kambing hitam mendadak dimunculkan di mana-mana. Telunjuk menuding tanpa menggunakan nalar pikiran, apalagi hati.  Jutaan jiwa yang bersih terhenyak dan termangu. Ingin membantah, namun tiada daya. Hanya tertunduk, menyerah pada kehinaan dan pasrah pada ketidakberdayaan.  Air mata pun mengembang di kelopak mata, menitik dan jatuh mengalir membasahi bumi yang merekah.
Sementara di belahan bumi sana ada yang tertawa-tawa senang. Terbahak-bahak hingga perutnya yang gendut terguncang-guncang. Bertepuk tangan dengan riang gembira padahal kedua tangannya berlumuran darah. Sabra dan Shatila ... September, dua puluh dua tahun silam juga bersimbah genangan darah. Di sebuah sudut teronggok mayat-mayat yang membengkak, korban penjagalan. Pembunuhan meninggalkan wanita-wanita yang terburai isi lambungnya. Banyak! Tak terhingga jumlahnya. Para wanita hamil hidup-hidup dirobek perutnya dengan bayonet, sehingga bakal bayi-bayinya bisa direnggut keluar. Gadis remaja diperkosa sebelum dijagal. Raut wajah mereka tak rela, karena kebejatan sang durjana. Sementara remaja pria dikebiri kemaluannya.
Di sudut lain, bayi-bayi mungil menjadi hitam legam karena terpanggang. Mereka bergelimpangan di jalanan bagaikan gunungan sampah. Lalat-lalat berkerubung, berlomba-lomba hinggap di kental darah. Di sampingnya, tak terkira cabikan tubuh laki-laki dewasa yang bertebaran di mana-mana. Pun ada yang sedang memeluk sayang buah hatinya dengan punggung berlubang. Dan, ada pula mata-mata bercelak yang terbelalak karena buah hati tercinta disayat-sayat di depan hidungnya.
Tak terhitung selongsong peluru senjata mesin dan magazine, hingga pecahan granat yang berserakan di sela-sela potongan kepala, tangan, atau kaki yang dipenggal. Senjata penjagal memang tak bermata, menggorok, menerjang dan membunuh siapa saja. Bayi, remaja, orang dewasa, tua renta bahkan janin-janin menjadi korban yang tak berdosa. Tak hiraukan pula tempat dan kapan terjadinya. Di pos-pos pemeriksaan, pasar, rumah sakit, sewaktu berdiri di pojok jalan bahkan di atas ranjang.
Belasan ribu mereka yang tak berdosa kehilangan nyawa, dan setengah juta orang kehilangan tempat tinggal. Hingga sekarang penjagal itu masih ada di bumi Al Aqsa, dan tak pernah berhenti meneteskan darah para syuhada. Ia bebas berkeliaran karena dilindungi oleh penjagal lainnya dari sebuah negara adikuasa. Entahlah ... September seakan tak pernah ceria seperti sebuah tembang yang pernah tercipta dan berkisah tentang selarik harapan cinta dan asmara. September yang sekarang ada hanyalah air mata, putus asa, jerit ketakutan, dan genangan darah bercampur cabikan tubuh yang tercecer di belahan bumi mana saja.
Astaghfirullah ... 





SI PEMUDA DAN PANDANGANNYA
*faiz*
SUATU HARI , seorang lelaki muda dengan pakaian yang terbilang rapi dan gaul  sedang berjalan-jalan mengelilingi indahnya kota London .Ia berjalan dengan headseat ditelinganya layaknya kebanyakan pemuda jaman sekarang. Sesekali ia berbalik memerhatikan gedung-gedung besar di depannya yang berjejer rapi dengan warna yang cukup menarik hati.
            “hmm .. indah betul kota ini , bangunannya Ok , Makanannya pun Ok , apalagi Penduduknya, Oknya kebangetan” gumannya dalam fikiran.
            Tak lama waktu berjelang , ia tiba di sebuah perempatan yang membuat hatinya seakan delima
            “kanan ? ahh .. kelihatannya ramai sekali .. kiri ? malah Nampak sunyi sekali. Lurus aja ahh” .
Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jalan yang berada di hadapannya . seiring berjalannya waktu , ia tiba-tiba berhenti melangkah tepat di depan sebah tokoh penjual keramik . keramik yang terpajang di tokoh tersebut sungguh indah dan menawan . namun keindahan keramik tersebut bukanlah hal yang menyebabkan si pemuda tadi berhenti melangkah . Di hadapannya tepat berdiri sekelompok lelaki dengan penampilan yang sangat menakutkan, tattoo naga jelas tergambar di lengan sebelah kanan dari salah seorang lelaki di kelompok tersebut . karena merasa agak ragu untuk melanjutkan perjalanannya , terpaksa pemuda tersebut mengambil akal untuk bersembunyi sejenak di tokoh keramik yang tepat berada di sampingnya hingga sekelompok lelaki tadi pergi menjauh .
            Beberapa menit pun berlalu . akhirnya si pemuda tadi beranjak keluar. Akan tetapi , sekelompok lelaki tadi masih saja berada di posisinya . karena merasa tak sanggup lagi , si pemuda memutuskan untuk beranjak pergi. Namun, tiba tiba sesuatu mengejutkan terjadi . seorang wanita tua Nampak sedang berdiri di pinggir jalan sambil membawa tas hasil belanjaan . sekelompok lelaki tadi tiba tiba mendekati wanita tua tersebut .
            “wah .. gawat , mau apa mereka !?” . gumannya dalam hati sambil memikirkan setiap kemungkinan buruk yang datang .
            Tiba-tiba  salah seorang lelaki dari kelompok tersebut mengangkat tas bawaan wanita tua tadi , sedangkan yang lainnya mengelilingi si wanita tua layaknya seorang artis papan atas dengan para bodyguardnya . prasangka buruk yang berada di kepala pemuda tadi tiba tiba musnah dalam hitungan detik .
            ternyata , mereka bukanlah orang yang jahat . mereka malah ingin menolong wanita tua tersebut dengan senang hati “ pikirnya dengan perasaan yang legah.
            Si pemuda tadi akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya .  di tengah perjalanan ia melihat sebuah patung yang diukir indah oleh pembuatnya . karena merasa tak ingin kalah eksis dari pemuda dan pemudi yang lain , akhirnya ia memutuskan untuk mengambil beberapa foto di tempat tersebut . karena merasa kurang seru jika hanya ber selfie . maka ia memutuskan untuk meminta pertolongan dari salah seorang pengunjung di tempat tersebut .       
            “sir , can you help with this ? please take a picture of me by this camera” . pintanya
            “ohh .. of course I’ii glad to help you my friend”. Balas orang tersebut.
            Akhirnya si pemuda tadi berjalan ke dekat patung tersebut. Namun, tiba-tiba si pengunjung tadi lari sepenuh tenaga dengan membawa kamera si pemuda.
            “SIRR .. !! WOI , COME BACK HERE !!”. teriak si pemuda tersebut setelah sadar bahwa kameranya telah dicuri.
            Ia kemudian berlari dengan sepenuh jiwa dan raga mengejar si pencuri tadi. Kerumunan orang tak lagi ia pedulikan, layaknya bintang aktor yang sedang beraksi dalam adegan kejar mengejar. Si pemuda tadi terus berlari sambil meneriakkan kata “THIEF” tanpa lelah sedikitkun. Bagaimana tidak, kamera tersebut berisi foto-foto yang sangat berharga baginya.
            Setelah kurang lebih 1,5 km berlari , akhirnya si pencuri dan si pemuda tadi mulai kelelahan. Kecepatan mereka yang awalnya 10 m/s kini menurun menjadi 5 m/s. hingga akhirnya si pemuda tak lagi mampu bertahan dalam sengitnya adu balap. Ia berhenti dengan air keringat yang membasahi tubuhnya. Ia kemudian berjalan dengan kedua tangan berada di lengan dengan muka yang masa.
            “Sir .. !”. terdengar suara yang tiba-tiba membuatnya kaget
            “ye .. s?”. jawab si pemuda dengan nada agak ragu karena yang berada di depannya ternyata seorang lelaki dengan tattoo naga di tangan kanannya.
            “it’s  yours .. ?” . katanya sambil memegang sebuah kamera putih bermerek Can*** di tangannya.
            “YES .. !! that’s mine”. Balasnya senang
            “please be careful next time”. Lelaki tersebut memberikan kamera yang ia pegang kepada si pemuda.
            “Ok . I’ii . but thanks before”. Jawabnya dengan wajah yang tak lagi nampak masam .
            “your welcome”.
            Setelah kejadian itu, si pemuda beranjak pulang ke tempat ia menginap. Di penginapan , ia merenungkan apa yang telah ia pelajari hari itu .
            “ternyata .. kata orang dulu memang benar . kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya, tetapi nilailah orang dari dalamnya”. Ucap pemuda itu kepada dirinya sendiri dengan senyum manis yang tergambar di bibirnya.




WIDY
*opang*
DI DAERAH KOTA soppeng terdapat sekolah menengah atas yakni SMA Negri 1 Watansoppeng yang merupakan SMA favorit sekaligus unggulan di kota itu, disekolah itu ada seorang anak bernama Widy, kelas XI MIA, orangnya cantik, pintar, manis, dia merupakan kategori perempuan idaman di sekolah itu, tapi karna sifatnya yang terlalu cuek pada laki-laki dan seperti tidak tertarik dengan hubungan-hubungan yang tidak jelas seperti pacaran sampai sekarang ia tidak pernah berpacaran. Karna sifatnya itu pula banyak laki-laki enggan mendekatinya.
Di suatu pagi, seperti biasa Widy berangkat sekolah pagi-pagi sekali, dan tiba di sekolah bersamaan dengan tibanya satpam sekolah. Windy berjalan menuju kelasnya, dari kejauhan ia melihat seorang lelaki duduk di depan kelasnya, meskipun agak penasaran Widy hanya berjalan melawati lelaki tersebut dan masuk ke kelasnya. Sampai tiba jam masuk, lelaki itu tetap duduk di depan kelas meskipun semua murid telah masuk kekelas masing-masing, hingga kepala sekolah masuk bersama lelaki itu. “Permisi pak, ini ada murid baru yang akan di tempatkan dikelas ini”, ungkap kepala sekolah. Lelaki itu lalu memperkenalkan dirinya “Perkenalkan nama saya Miko Triputra, kalian bisa memanggil saya Miko, saya pindahan dari SMA Bimasakti Bandung” Ungkapnya sambil tersenyum manis. “Silahkan duduk disamping Widy”. ucap kepala sekolah sambil menunjuk ke arah Widy, setelah tu kepala sekolah keluar dari kelas dan pelajaran kembali dilanjutkan.
Saat pelajaran di mulai kembali widy hanya memperhatikan guru dan sesekali mencatat hal yang ia anggap penting. Ia tidak pernah menyapa, tersenyum, apalagi memperkenalkan dirinya pada Miko. Ia seakan hanya berdua dengan guru dalam kelas, Miko merasa disampingnya tidak ada seorangpun sangking dinginnya sikap windy padanya, meskipun ia  sering berbalik dan tersenyum pada widy tapi widy tetap saja bersikap dingin. Sementara itu murid perempuan dalam kelas mulai curi-curi pandang pada Miko, dan Miko hanya menanggapi hal tersebut dengan senyumnya yang manis.
Saat jam istirahat tiba Widy dan Miko tidak ke Kantin, mereka berdua sangat serius dengan hal yang mereka kerjakan. Widy sibuk dengan belajarnya dan Miko hanya duduk disampingnya sambil membaca novel. Lama kelamaan beberapa perempuan datang menghampiri Miko untuk sekedar menyapa, berkenalan, ataupun minta nomor handphonenya, sementara widy tetap serius belajar. Hingga Miko mulai bertanya.
“Hy! mengapa kamu tidak ke kantin?,” tanya miko sambil tersenyum manis.
“Aku tidak lapar, disaat jam istirahat seperti ini aku memang biasanya mengulangi pelajaran yang barusan di pelajari. Tapi nanti aku juga ke kantin kok, buat beli minum. Kamu sendiri mengapa tak ke kantin?,” Ucap widy dengan nada yang datar.
“Kamu lupa yah, aku inikan anak baru, aku belum tahu betul seluk beluk sekolah ini. Dan tentu saja aku menunggu seseorang untuk mengajakku ke kantin,” jawab miko dengan nada agak menyindir.
“Baiklah aku mengerti, jadi apakah kamu mau aku temani ke kantin?,” Tanya widy sambil membereskan bukunya.
“Yap!, huft... tentu saja aku mau”
Mereka berdua lalu berjalan ke kantin bersama. Setibanya di kantin mereka berdua hanya membeli minum, lalu duduk bersama. Miko merasa semua mata di kantin tertuju padanya dan widy.
“Apa hanya perasaan ku atau kita memang lagi diperhatikan seisi kantin?,” tanya miko dengan suara yang pelan.
“sudah jangan hiraukan, setelah ini aku akan membawamu berkeliling sekolah,” Jelas Widy
Setelah mereka selesai di kantin, Widy menepati janjinya membawa miko berkeliling sekolah. Sampai tiba di depan ruang guru Widy di panggil oleh Ibu Aminah, ia pun menghampiri Ibu Aminah dan menyuruh Miko masuk kekelas lebih dulu. Miko  pun berjalan kembali kekelas, sampai di dalam kelas ia langsung duduk di tempatnya sambil lanjut membaca novel. Hingga Agung yang merupakan ketua kelas menghampirinya dan bertanya.
“Hy!, kamu Miko kan?. Bagaimana caramu mengajak Widy ke kantin sampai ia bisa menerima ajakan mu?,” Tanya Agung sambil menatap serius.
“Aku tak mengajaknya, dia yang mengajakku ke kantin,” Jawab Miko.
“Bagaimana mungkin? Selama ini ia selalu bersikap dingin pada laki-laki, bagaimana bisa ia mengajakmu ke kantin?,” Tanya Agung dengan serius.
“Sudahlah, hal itu kau tanyakan saja pada Widynya langsung,” jawab miko dengan santai.
Bel masuk pun berbunyi, dengan masih penasaran Agung berjalan kembali ketempatnya, tapi ia terhenti ketika widy berjalan melewatinya, Agung pun menyapa Widy. Widy hanya berbalik dan tidak memberi tanggapan. Saat pelajaran dimulai Widy kembali terfokus kedepan, dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Keesokan harinya Widy dan Miko samasama bersikap dingin, Widy telah dianggap wajar bersikap dingin karna dari dulu dia hanya peduli dengan masalah pelajaran saja, berbeda dengan Miko yang kemarin begitu ceria hari ini Miko terlihat gelisah dan seakan memikirkan sesuatu, seharian ini Miko dan Widy tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun satu sama lain. Begitu pula esok harinya dan esoknya lagi. Hingga tersebar gosip bahwa Miko sakit hati pada Widy akibat ia ditolak cintanya, karna itu mereka tak pernah berbincang lagi. Miko dengan cepat menanggapi gosip itu. “Aku dan Widy baik-baik saja, tak ada masalah diantara kami,” Jelas Miko. Widy juga ikut berkomentar “Miko tak pernah menembakku, di antara kami tidak ada masalah apapun”. Lambat laun gosip itu mulai menghilang. Sebenarnya, Widy memiliki perasaan istimewa pada Miko, tapi karna Miko seakan tidak memiliki perasaan apapun padanya ia jadi enggan mengajak Miko berbincang.
Hingga di malam akhir pekan Widy menerima pesan singkat lewat sms oleh seseorang yang ternyata Miko, mereka saling berbalas sms sampai larut malam.
Miko         : Hy, aku miko... aku mendapat no. Mu dari Agung mohon maaf bila mengganggu...
Widy         : apa maksudmu dengan mengganggu?, aku malah senang.
Miko         : senang? Knp?
Widy         : sdhlah lupakan. Menurutmu apakah di sklh aku cuek padamu?
Miko         : yah,,, kau sangat cuek padaku, bahkan pada semua orang.
Widy         : tapi kau juga bersikap cuek padaku...
Miko         : itu wajar karna dri dlu sikapku memang pendiam...
[...]
Widy         : apa alasanmu pindah sklh?
Miko         : yah, menurutku lebih baik mati di tanah kelahiran dari pada tempat lain..
Widy         : mksudmu??
Miko         : hanya bercanda, sdh dlu yah aku dah ngantuk nih, lgian ini jga dah larut banget.
Widy         : yah, baiklah aku jga sdh ingin tidur... tpi jngn pernah bercanda dengan kematian lagi....
Miko         : hmm, kau hanya belum tahu,,, kau jangan bermimpi tentang ku yah... hehe :D, Good night...
Widy         : kau yang jangan masuk kemimpiku... G.night too.

Keesokan harinya Widy melihat Miko kesekolah bersama seorang gadis, ia penasaran dengan gadis itu, ia berpikir kalau gadis itu adalah pacarnya Miko. Setibanya Miko didalam kelas Widy langsung bertanya.
“Hy! Siapa gadis yang bersamamu tadi? Apakah dia pacarmu?.”
“Yang tadi, dia itu Claudy, kakakku. Ada apa kau bertanya tentangnya?,” Ucap Miko
“Tidak ada apa-apa aku hanya mengira... sudahlah,” Jawab Widy dengan malu-malu sambil tersenyum.
“hey! Ini pertama kalinya aku melihat mu tersenyum, kau sangat cantik dengan senyum itu,” ungkap Miko sambil membalas senyum dari Widy.
Widy hanya terdiam malu mendengar pernyataan dari Miko, dalam hati ia sangat bahagia mendengar pujian itu, tapi karna gengsi ia tak mau mengungkapkan kegembiraannya pada Miko. Ia hanya berbalik sambil membuka bukunya. Saat jam pelajaran dimulai tidak seperti biasanya Widy terlihat tidak konsen, ia hanya tersenyum manis sambil melamun. Widy  tidak sadar ternyata Miko memperhatikannya dengan senyum manis yang menghias wajah cantiknya. Begitu pula disaat jam istirahat, Widy tidak lagi mengulang pelajaran yang barusan diberikan. ia sedang gelisah, dalam hatinya ia begitu berharap Miko mengajaknya berbincang, ia bisa saja memulai perbincangan tapi sebagai perempuan ia mengurungkan niatnya untuk lebih dulu mengajak Miko berbincang. Sementara itu Miko hanya duduk disamping Widy sambil membaca novelnya.
Semenjak percakapan pagi tadi mereka tak pernah lagi berbincang sampai sekolah selesai, disaat Widy keluar dari kelas ia melihat Miko sangat gelisah, akhirnya ia tersadar melihat wajah Miko yang pucat gelisah. “Seharian ini semenjak pagi tadi aku tak pernah melihat Miko tersenyum, ada apa gerangan dengannya” pikirnya dalam hati disaat Widy hendak menghampiri Miko, ia keduluan oleh Claudy kakak Miko, akhirnya Widy hanya bisa melihat Miko pulang bersama kakaknya.
Malam harinya Widy masih tidak konsen dalam belajar, ia masih memikirkan alasan Miko terlihat sangat khawatir di sekolah tadi. Tapi karna tak ingn berlarut-larut dengan rasa penasarannya ia memutuskan tak ingin memikirkan hal itu lagi. Disaat ia sedang serius-seriusnya belajar tiba=tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan singkat yang masuk, ia langsung memeriksanya ternyata  pengirimnya adalah Miko. Tanpa basa-basi Widy langsung membalas pesannya.
Miko         : hy,,,,
Widy         : ada apa??
Miko         : tdk ada apa”, aku hanya ingin melihat senyum manismu bEsok?
Widy         : apa?
Miko         : apanya yang apa?? Aku cuman mau lihat senyum di wajahmu yang memang kau tujukan untukku....
[...]
Miko         : aku harap kau belajar dengan giat, agar masa depanmu pasti...
Widy         : apa maksudmu dengan kata” itu? Seakan kau sdh mau mati....
Miko         : tak ada yg tahu kan kpn ajal menjemput...
Widy         : kenapa jadi terlalu serius akukan cman bercanda...
Miko         : bknkah kmu menyuruhku tdk bercanda soal kematian... huft sdhlah ini sdh larut lebih baik kmu tdur sana... jangan bermimpi tentangku yah... hehe, Good night!
Widy         : tak usah melarangku,,, apa salahnya kalau aku bermimpi tentangmu, itukan mimpiku sendiri,,hehe, G.night too....

Keesokan harinya Widy terlambat masuk kekelas akibat ada urusan yang harus ia kerjakan di ruang kurikulum. Saat menuju kekelasnya ia melihat Miko yang tidak memakai seragam sekolah ditemani oleh Claudy. Dengan penasaran Widy langsung berlari menghampiri Miko.
“hey, ada apa? Kamu tidak masuk sekolah?,” Tanya Widy kepada Miko
“Apa ini gadis bernama widy, ternyata memang cantik,” sela Claudy sambil melangkah menjauhi Miko dan Widy.
“Maaf sebelumnya aku tak pernah memberitahumu, sebenarnya otakku ini bermasalah. Malam ini aku akan menjalani operasi otak di singapura dan kemungkinan berhasilnya tidak lebih dari 10%. Apabila operasi tidak dilakukan malam ini mungkin hidupku tinggal sepekan,” Ungkap Miko dengan terbata-bata.
“Mengapa kau baru memberitahu ku sekarang?, jadi ini arti dari ucapanmu seelama ini,” ucap Widy sambil menitihkan air mata.
“sekali lagi maafkan aku, sebenarnya selama ini aku menyukaimu!, kau tak usah menjawabnya karna aku sudah tahu tak mungkin kamu mau menerima seorang yang hidupnya mungkin tinggal sepekan,” ucap Miko sambil tertawa kecil dengan air mata terus mengalir.
“Bodoh!!, aku juga menyukaimu sejak pertama kita berbincang. Dan selama ini senyum diwajahku bisa ada karnamu. Kau adalah cinta pertamaku jadi akan sulit untuk melupakan mu karna itu kembali lah untukku, aku akan menyimpan senyum termanisku untukmu,” ucap Widy dengan nada keras dan masih terisak-isak.
“kamu tahu?, kamu juga merupakan cinta pertamaku, dan sejak kecil aku selalu berharap agar cinta pertamaku akan menjadi istriku kelak.”
Setelah itu, dengan masih menangis Miko berangkat bersama Claudy untuk melakukan operasi di singapura. Sementara itu Widy dengan penuh harap menunggu Miko untuk kembali.
Setahun lebih telah berlalu, Widy masih tetap bersabar dan berharap akan kembalinya Miko. Sampai di suatu ketika Claudy datang menghampiri Widy di sekolah, mereka berdua berbincang bersama tapi tak secuil pun membahas tentang Miko, Widy agak ragu sebab apabila Miko telah mati dan ia membahasnya mungkin akan membuat claudy menangis. Hingga seseorang menepuk pundaknya. Ternyata orang itu adalah Agung, ia menyuruh Widy ke Ruang Tata Usaha sebab ia harus mengurus masalah keuangan Pameran sebab Widy merupakan Bendahara Pameran. Widy pun langsung beranjak keruang kurikulum, sementara Agung kembali kekelasnya.
Saat jam istirahat barulah Widy menuju kekelas, dengan lesuh ia berjalan kekelasnya. Namun ia terhenti didepan kelas saat ia melihat novel yang biasa dibaca oleh Miko berada di bangku depan kelas, dengan perasaan tertekan dalam hati ia lanjut masuk kekelas lalu langsung duduk di bangkunya, dan membuka buku fisikanya, dengan serius membaca bukunya. Sampai-sampai ia mengabaikan seorang lelaki yang duduk disampingnya. Dengan suara yang tak asing lelaki itu meyapanya.
“Hy! Seperti biasa kau serius dalam belajar,” uacap lelaki itu dengan suara yang tak asing.
“Miko! Mengapa kau terlalu lama membuat ku menunggu,” ucap widy sambil meneteskan air mata bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar